Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2009

Tangan-Tangan di Balik Cermin

Di balik cermin itu kita berpapasan

Bertegur sapa dan bersalaman

Di dalam toko itu wajahmu bersinar

Bercahaya bak kembang api di tahun baru

Di baju biru itu tertulis nama dirimu di masa kini

Berjalan tegap, tangguh tak rapuh

Di kening itu tertempel ingatan

Kenangan masa silam yang tak pernah bisa terlupakan



Tapi di tangan itu telah melekat ujung jari-jari tangan

Tangan-tangan siapa itu?

Sepertinya tangan perempuanmu

Aku hanya tersenyum membalas senyummu

Membayangkan diriku yang berjalan di sisimu

Diriku yang melekatkan ujung jari-jariku ke tanganmu

Tapi kutahan mimpi itu

Karena takdir berkata tangan itu bukan milikku

Tak Berbalas Lambaian

Sepertinya aku ingat senyum itu

Senyum kecil yang membuat dunia terbangun dari tidurnya

Dan kau masih menunggu hadirnya di dermaga itu

Sedangkan hadirnya tak pernah pasti

Aku melambaikan tanganku

Berupaya senyummu melengkung ke arahku

Tapi senyum itu miliknya



Dia yang sedang kau tunggu



Saat senja hampir berbagi dengan malam

Kau masih berdiri di sana menunggunya

Sedang aku telah letih melambaikan tanganku

Tak berbalas lambaianku

Runtuhlah rasaku

Senyum tak dapat lambaian berperih rupanya

Wajahku atau Wajahmu

Wajah-wajah siapa itu?

Wajah yang terdiam dan menunggu

Wajahmukah atau wajahku

Wajah dalam lukisan itu

Wajah-wajah berduka

Wajahkukah atau wajahmu

Wajah tersiksa berpelukan dengan luka

Wajah-wajah siapa itu?

Wajah terdiam dan terpana

Melihat dunia berputar dengan asyiknya

Wajah-wajahkukah atau wajahmu

Wajah yang tak terjamah

Wajah yang kosong

Wajah yang tak berasa

Wajah yang tertunduk

Wajah yang saling bertatap

Seharusnya

Seharusnya rasa itu tak kubiarkan tumbuh berakar

Seharusnya rasa itu tak kubiarkan menjamah waktu

Seharusnya kubiarkan prinsip itu bertahan

Seharusnya tak kubiarkan rasa itu mengalir

Seharusnya rasa itu kubunuh lebih awal

Di saat semua terbalik

Saat wajah-wajah itu tak ada

Saat kata-kata itu tak berikrar

Ternyata rasa itu telah terpercik

Seolah-olah dia jadi tak ada
Seolah-olah dia jadi tak nampak

Seolah-olah dia sirna

Seolah-olah aku tak peduli

Seolah-olah aku tak ada di sana dan dia tak di sini

Sepertinya aku akan pergi jauh seperti sebelumnya

Saat aku belum mengenalnya

Saat rasa itu tak pernah ada

Saat semua tak pernah terjadi

Sepertinya langkahku terlalu jauh

Terlanjur

Ingin aku tarik kata-kataku

Tapi sepertinya aku menjilat lidahku sendiri

Sudahlah, kubilang sudah

Terlanjurlah terlanjur

Semua berjalan tanpa kemauanku

Semua terlanjur berbelit

Terlanjur tak pasti

Dan terlanjur penat

Inginnya kata-kata itu tak pernah terucap

Tapi terlanjur terucap


Tak ada yang disalahkan

Dan tak ada yang menyalahkan


Karena terlanjur terburu menyusul

Definisi Cinta

Cinta itu racun
Ketika datang meledak-ledak
Namun semakin lama menyiksakan
Cinta itu seperti narkoba
Membuat melayang namun menimbulkan kecanduan
Cinta itu seperti musim
Bisa bersemi tapi bisa juga gugur

Cinta itu seperti sate
Menusuk sampai ke dalam bahkan sampai tembus
Cinta itu seperti jeruk
Bisa manis bisa asam
Cinta itu bergerak
Tak pernah berhenti pada satu titik

Cinta itu sebuah pilihan
Tapi aku tak memilihnya
Karena aku hanya mendefinisikan
Apa itu cinta

Susahnya Jatuh Cinta

Ku coba bertahan dengan kisahku
Namun derang menggoyahkanku

Aku menari-nari
Bahagia melihat bulan sabit yang melengkung
Membayangkan senyumnya yang menawan
Tapi aku teringat ayah bunda

Aku berhalusinasi
Membayangkan bergaun seperti layaknya seorang putri
Dan dia pangerannya
Tapi aku terhenti ketika ingat ayah bunda

Aku berseri-seri
Mendengar lagu terlantun merdu
Nyaring seperti mendengar suaranya
Tapi aku teringat ayah bunda

Susahnya jatuh cinta
Apa-apa teringat ayah bunda

Kepada angin di udara

Masihkah kau tetap di sana?

Berhembus lembut menyemaikan rinduku pada langit biru

Sampaikah pesan yang kukirim padanya?

Kini aku berada di ambang batas waktu

Tak tahu harus berbuat apa

Tak tahu harus berjalan ke arah mana

Aku buta arah angin!!!

Seberapapun aku coba

Perasaan ini justru menghinaku

Ia menginjak-injakku tanpa permisi

Ia mengoyahkanku di saat-saat semuanya hampir berakhir

Harus bagaimana aku angin??

Haruskah aku tetap berdiam diri saja??

Menunggu air mengalir sampai samudra

Sedang waktu tak tahu akan berhenti di jarum yang mana

Angin kabarkan ini padanya

Berhembuslah sampai ke tempatnya

Dariku yang tak pernah dianggap ada

Kepada waktu di persimpangan rasa

Entah siapa dirimu tapi aku adalah udara

Udara yang menjelma menjadi sesosok manusia

Ingin kujabarkan kata demi kata yang mulai muncul

Di ufuk kerinduan sang angin

Sesaat rasamu bersambut

Namun sekejap menghilang

Lalu kupertanyakan adakah rasa yang sejati?

Rasa yang hadir tanpa kenal lelah

Rasa yang bersambut tanpa henti

Rasa yang utuh tak pernah padam

Rasa yang tak mengenal batas waktu

Aku telah membiarkan samudra menjemputku

Tapi sekali lagi ia menghempaskanku

Akhirnya aku menjadi udara kembali

Yang mencari kawanannya di tengah gurun kering

Mencari angin yang sejati

Yang bisa kuhirup tanpa pernah patah

Kecewa Lagi

Kisahmu kisahmu berjalan dari bibir ke bibir
Tuhan menegurku lagi
Tuhan menyayangiku
Ia selalu menjauhkanku darimu
Selalu ada kata tanya tiap kali Tuhan lakukan itu
Tapi kini terjawab sudah
Syukurku melambung tinggi
Aku pikir kau telah sedikit berubah
Ternyata selamanya kau tak berubah
Makin bertambah parah
Kecewa aku kecewa lagi
Kau apakan dirimu hingga kau menjadi sepert itu
Entah sebagai apa aku harus bicara
Aku kecewa
Kecewa lagi padamu
Orang yang kuanggap tetapi tak seharusnya kuanggap

Aku dan Kau Mengerti

Aku mengerti

Mengerti apa yang tak kau mengerti

Mengerti mengapa kau ingin pergi

Mengerti kau tak bisa lagi kumiliki

Mengerti mengapa bayanganmu menghampiri

Kau mengerti

Mengerti mengapa aku ingin sendiri

Mengerti mengapa ingin kuakhiri

Mengerti mengapa aku relakan ini

Mengerti mengapa bayangmu terus menghampiriku

Semua bermula dari cinta

Cinta belum saatnya cinta

Kini aku dan kau mengerti

Kisah itu dikubur saja

Heningnya Pertengkaran

Dua pasang bola mata tak saling memandang

Kita terpaku di sebuah meja tanpa kata

Di mana dua kursi saling bertahan menahan kita pergi

Bagai berada dalam sebuah drama

Di mana ada pro dan kontra

Dengan penyajian panorama yang sungguh sempurna

Tapi tak ada tokoh penengah di sana

Tak ada kata tuk membahasakannya

Mulut kita berhenti bicara

Dan pergi begitu saja

Saling berlawanan arah masih tanpa bicara

Pertemuan Di Kuta

Ku tersesat dalam gelapnya pasir Kuta

Karna mentari nyaris ditelan cakrawala

Panggilanmu tersapu oleh ombak yang berkata-kata

Pandanganmu terhalang oleh orang yang berlalu lalang

April jadi saksinya

Pertalian batin yang melilit erat

Aku dan kau dipertemukan

Setelah mencari dan dicari

Sebelum kita terpisah semakin jauh

Kau Pikir

Kau muncul bersamaan dengan matahari terbenam

Kau pergi disaat terjadi gerhana bulan total

Dan kini kembali setela semua berlalu

Kau pikir aku ilalang

Yang bergoyang menyambut angin

Kau pikir aku gunung

Yang bisa kau daki sampai puncaknya

Kau pikir aku air

Yang bisa diteguk masuk ke kerongkongan

Kau pikir aku patung

Yang tak lari jika dikejar

TidurLah

Siapa yang kan menjawab kalau aku tak berani bilang?

Siapa yang bertanya jika kau tak berani menjawab?

Siapa yang peduli kalau kau terus berdiam diri?

Siapa yang tanggung jawab kalau kau menangisi diri sendiri?

Tidurlah tidur hari sudah malam

Esok petang akan datang

Bergeraklah bergeraklah

Malam menjemputmu

Tidurlah tidurlah

Menangisi diri sendiri tak ada guna

Tidurlah tidurlah

Bangunlah jika sudah reda

Nasjibur (Nasi Jadi Bubur)

Nasjibur untukku

Malang tak dapat kutendang

Cinta tak dapat kubuang

Janji kuingkari

Rasa kukhianati

Nasjibur untukku

Cinta masih tersisa

Seperti nasi yang telah basi

Sudah tahu dia dengan yang lain

Masih saja menyimpan rasa

Nasjibur untukku

Sahabatku, sahabatku ingat

Dia milik sahabatku

Tapi dulunya dia milikku

Nasjibur nasjibur

Bintang tak bisa kupegang

Langit biru tak bisa kupandang

Tak bersinar bintangnya

Kelamlah langitnya

Nasjibur nasjibur

Bagaimana cara kubuang dirinya

Nasjibur tolong aku!!

Terlalu Lama

Kusisihkan rasa itu untuknya

Buih itu memerangkapku terlalu lama

Bahkan ketika sepuluh itu hampir berlalu

Rasa itu masih tersisa

Tapi badanku letih tuk terus bertahan

Tak ada

Masih belum ada

Mereka semua masih menyuruhku bertahan

Aku tak sanggup terdiam dalam buih

Terlalu lama aku berharap

Terlalu lama aku sia-siakan hidup

Terlalu lama waktu membuatku bertanya

Haruskah semua ini terus berjalan?

Aku ingin pergi

Aku ingin menghilang darinya

Aku ingin membuat semua yang lama menjadi makin lama

Aku bosan selama sepuluh tahun ini

Tak ada yang membuatku hambar

Kecuali dia

Masih berdirikah dia?

Aku hanya takut jika dia sudah tumbang

Disaat aku belum menemukannya

Di langit dia menulisnya

Hamburan awan yang berara itu

Apa Kau Bicara

Kau datang diterpa dalam mata sayu

Katamu kau sedang terluka

Kau bilang berkunang-kunang

Tapi tak ada cahaya di atasmu

Kau bilang aku salah

Membiarkanmu terperangkap dari hujan di musim kemarau

Kau salahkan diriku yang tak kau anggap teman

Kau benar-benar membuatku membisu dan meragu

Tahu aku bukan teman terbaikmu

Tapi mengapa kau datang padaku

Disaat luka kau datang membaginya

Disaat bahagia apa kau ingat membaginya?

Jika aku bertemu alien aku tak takut

Aku justru seribu kali lipat takut padamu

Takut terhadap sifatmu

Yang berubah arah ketika semua juga berubah

Katanya aku jahat

Katanya aku iri

Katanya aku tak pantas bicara

Tapi makin kau banyak berkata

Makin aku tak tahu kalau kau sedang bicara

Apa kau sungguh sedang bicara?

Lelaki yang Kubenci (1)

Kusibak hidup baruku

Menunggu rasa cinta yang baru

Tahu-tahu kau muncul di hadapku

Lelaki yang kubenci dulu



Kau malu-malu menyapaku

Kau berlari menjauhiku tiap bertemu

Namun sulit bagiku

Menerjemahkan kelakuanmu



Ada apa denganmu?

Aku masih tak begitu tahu?

Tanda tanya di kepalaku

Siapakah lelaki itu?

Lelaki yang Kubenci (2)

Ketika mata akan terpejam

Sekilas dirimu datang dengan bayang

Melambai-lambai

Tersenyum riang di balik tiang

Makin geli ku membayangkanmu

Lelaki periode berapa kamu?

Lihatlah taktik kunomu tuk berdamai denganku

Masih saja aku membencimu

Tak hilang satu jengkal pun rasa benciku

Parodi Surat Balasan

Kutunggu balasan surat biru

Tapi terlampau lama kutunggu

Kukirimkan lagi surat yang lain

Tapi angin menerbangkan kembali padaku

Kutulis surat yang lain dan kuberi pesan agar jangan kembali kepadaku

Tapi surat itu benar-benar tak kembali beserta balasannya

Kutulis lagi surat yang lain dan kuberi pesan balas

Tapi surat kembali berisi kata balas saja

Usai aku menulis surat aku menulis surat lagi

Satu untuk kukirim Satu untuk balasan

Ketika surat itu sementara kukirimkan

Aku tak perlu menunggu balasannya

Karena aku sudah mempunyai surat balasan sendiri

Lelaki yang Kubenci (3)

Ketika awal kau pergi aku tak peduli

Mau ke ujung Deli Atau singgah ke Toli Toli

Kalau bisa jangan kembali

Tuk kesekian kali kau kembali

Mencairkan suasana hati

Tak sampai hati kumelihatmu

Karena kau berubah dari yang dulu

Tumbuhlah awal sebuah rasa

Meleburkan kebencianku

Aku terus mengintaimu

Tak peduli kau melihatku

Dan kan kuingat

Lelaki yang kubenci tamat

Di Atas Kecewaku

Kuingat ketika kupergi

Kau diam tak berbahasa

Tak menahan tak mengelak

Pasrahnya dirimu dapat kubaca

Dulu kaulah yang menahanku

Menegurku membisikkan kata lembut

Di telingaku “Jika kau pergi dengan siapa aku di sini?”

Tapi mengapa saat aku akan beranjak

Katamu nyaris tak kudengar

Kau melepas lepas sesuka air mengalir

Sebelum aku kehilanganmu

Ternyata aku telah kehilangan nyalimu

Di mana tubuh yang tegar dan selalu bertahan itu

Tertelan tanahkah?

Kecewa, kukecewa

Di atas kecewa melepasmu

Ternyata masih ada yang lebih kecewa

Kau, kau kehilangan jati dirimu

Disaat aku sedang bertarung dengan kekecewaanku

Aku Ingin Bertanya (AIB)

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta tak bisa bicara?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta selalu tak bernyali?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta selalu datang tanpa diundang?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta itu pergi diwaktu yang tak bisa dipastikan?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta kadang tak tepat waktu?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa ada cinta yang tak harus memiliki?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa aku banyak bertanya?

Kurasa aku tidak “hanya ingin”

Tapi aku “ingin” bertanya

Ada apa dengan semua pertanyaanku?

Rasanya aku tak tahu apa-apa tentang cinta

Terbang

Ingin aku terbang bebas

Tanpa mengikuti arah angin

Walau matahari panas

Walau kutub dingin

Tak peduli

Seandainya aku terbang

Ku akan mencarimu

Sampai ke ujung dunia kan kusinggahi

Akan kulewati satu per satu

Sukmaku pernah terbang

Bahkan menemukanmu

Tapi ragaku masih slalu tetap di sini

Menjagaku agar jauh darimu

Ini Jalanku

Pernah kujalani sebelumnya

Berjalan bersama cinta

Tapi ketika semua sirna

Aku kembali ke asalku

Berjalan sendiri lewati badai

Berpijak di bawah langit dan di atas bumi

Sendiri tersesat saat kembali

Menjalani hari-hari sepi

Berliku-liku

Menanjak tinggi

Menikung ke kanan dan ke kiri

Sampailah aku diturunan

Dan akhirnya kuterjatuh

Berat tuk berdiri lagi

Tapi niat masih ada di diri

Dan aku ingin kembali

Menjadi diriku sendiri lagi

Mereka

Kini aku tlah menepati semua

Janjiku tuk mencari temanmu

Tapi apa kau bisa mencari temanku

Mereka tak terjamah olehku

Mereka tak teridentifikasi oleh waktu

Mereka tak terlihat oleh kabarku

Mereka tak ada menjemputku

Mereka bilang setelah aku pergi

Mereka akan menyusulku

Jika aku ke Amrik mereka ikut ke Amrik

Jika aku rindu, mereka juga akan rindu

Tapi mengapa mereka masih tak nampak di ujung kelopak?

Mengapa mereka tak datang menemui tiraiku

Bertahun-tahun kusembunyi di balik tirai

Hanya untuk menunggu mereka datang

Tapi mengapa mereka belum juga datang?

Itukah teman?

Tak menepati janjinya

Mereka, di mana mereka?

Adakah yang tahu di mana mereka?

Sisa Diriku

Yang tersisa dariku hanya sepotong ingatan tentangnya

Seberkas cahaya yang berkedap-kedip

Tak seperti kilauan permata

Yang tersisa dariku hanya sebuah nama

Terukir maya di angkasa sana

Karena nama itu seperti miliknya

Yang tersisa dariku hanya sebuah makna

Makna hidup yang kasat mata

Arti pencarian yang tak terlaksana

Itulah yang tersisa dariku

Dari masa laluku

Untukmu yang tertunda

Kelak kita kan bersua

Yang tersisa dari sgalanya

Adalah waktu yang bicara

Kutunggu jawabnya

Pelenyapan

Bukannya ingin kuhancurkan

Sebatas ingin melenyapkan

Seruling sepi yang ditiup sang padang

Alunan gitar tak bersenar menghantar

Suara gelombang lirih tak tertuang

Ikut mengantar suasana pelenyapan

Kertas dibakar api

Api membakar kertas

Kobaran disulut korek

Sisa sisa menyisakan abu

Dan kubuang untuk mengakhirinya

Pertanda telah lenyap semua

Aku Bisa Petak Umpet

Aku bisa menjadi penyair
Jika kau mau
Aku bisa menjadi pengarang
Jika kau ingin
Aku bisa menjadi pelukis
Jika kau harap

Aku akan menjadi apa yang kau minta
Jika kau berhasil menemukanku lebih dulu
Asalkan kau tidak menyuruhku membabi buta
Karena Tuhan menyuruh kita petak umpet
Dan aku bisa petak umpet
Asal kau berjanji untuk hidup lebih lama
Sampai kita bisa bertatap muka lagi

Tak Pantas Tahu

Malam menusukku dari belakang
Diam diam dalam geram menyayat luka lalu
Jika lalu aku dibuat layu
Malam makin membuatku meragu
Akankah datang hari itu
Sepuluh tahun yang aku tunggu

Bunga tak bermekaran di hadapanku
Selalu sembunyi dalam keheningan tanpa aku
Bintang tak berpendar ketika kutunggu
Sama halnya dia yang membisu di sepenggalah waktu

Masih pantaskah sepatu kaca untuk cinderella
Jika sudah retak nyaris pecah terbelah
Gurun di padang pasir masih saja mengering
Tak pernah menjadi lautan air
Kapan hari itu tiba sedang luka tergores slalu

Oase mana yang kucari
Tahu letak pun tidak sama sekali
Puing-puing sisa serpihan itu masih samar sekali
Tak pernah jelas di mataku
Haruskah masih kutunggu hari itu
Hari akhir letih lelah penat
Haruskah kuteruskan pengembaraanku
Mencari jarum ditumpukan jerami
Agustus, selalu muncul setiap tahun
Mengapa bukan kau saja yang muncul
Merubah hari ini menjadi lebih bercahaya

Bulan Itu

Sudah dapat kuhitung dengan lima jariku
Tiap jari mewakili satu masa waktu
Bagai skala dalam peta
Waktu makin berkurang
Waktu makin menerjang
Tapi jarak masih saja terbentang
Tumbuh aku
Dan tumbuh juga kau
Kau tak tahu aku
Aku tak tahu kau
Bulan itu hampir datang
Yaitu waktu yang tepat tuk melupakan
Impian karang yang dulu kokoh tapi terpendam
Satu dekade
Tepatnya di bulan itu

Kau Tanya

Kau tanya aku marah??
Haha..
Kau tanya aku kesal??
Haha..
Kau tanya aku sebal??
Haha..
Kau tanya aku sedih??
Hihi..
Kau tanya aku perih??
Hihi..
Kau tanya aku menangis??
Hihi..
Sudah gaharu cendana pula
Ke mana saja…
Sudah redup baru tanya
Kalau bersinar ke mana-mana
Tanya saja pada batu
Seperti kerasnya hatimu
Bertanya seperti itu padaku

TERAKHIR KALI

Dulu berawal Agustus, September, Oktober, November, Desember
Mulailah berganti tahun
Lalu Januari, Februari, Maret, April
Berhentilah sejenak
Lanjutnya Mei, Juni, tibalah Juli
Semua berulang sembilan kali saat ku pergi

Agustus ku ingat itu
Namun belum sempat kembali
Bila aku datang itu terakhir kali
Bila aku tersenyum itu terakhir kali
Bila aku singgah itu yang terakhir kali
Bila aku rindu itu yang terakhir kali
Bila aku menyapa itu yang terakhir kali
Bila aku melihatmu itu juga yang terakhir kali
Karena janjiku pada cinta
Takkan kembali setelah kau di depanku
Tak peduli setelah itu