Langsung ke konten utama

Sapalah

Kau terdiam aku bahagia
Kau melukis aku senang
Kau tersenyum aku gembira
Tapi lebih lagi jika kau bicara dan menyapa
Karna tak pernah kulihat itu
Sejak sembilan tahun silam
Kuharap kau tlah berubah
Sapalah sapa
Karna aku kan berdoa
Moga kau bahagia di sana
Dengan hidupmu yang beranjak dewasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJODOHAN TARA

Aku berlari melawan hujan menuju sebuah halte kecil usang yang jarang dipakai orang. Atap-atapnya sudah rombeng. Saat hujan tak bisa dipakai untuk berteduh. Air sering kali terjun dari atas langsung menimpa kepala. Air deras mengalir dari sisi-sisi tiang penyangga. Aku hanya bisa berdoa semoga bus cepat datang sebelum tubuhku basah kuyup. Sesaat bus itu tiba dan kakiku segera melangkah menuju arah bus. Tapi bus itu tak jua berhenti, justru berhenti di halte baru. Aku menghelakan nafasku sebagai bukti kekecewaanku. Sudah basah kuyup tak dapat bus. Payah, sungguh payah. Mulut mulai komat-komit mengumpat sambil berjalan menuju halte baru. Tiba-tiba aku merasa hujan sudah reda. Tak ada air yang menetes di tubuhku. Ternyata ada seorang baik hati yang memayungiku. “Kelihatannya kita sudah pernah ketemu ya mbak?” sapa pria jangkung dengan senyum menawannya. Wajah itu memang pernah terlihat beberapa kali saat aku membeli roti untuk pengganjal perutku yang keroncongan. Pria itu seorang pelayan…

Kakak Anak Mama, Adik Anak Papa, Aku Anak Siapa?

Pagi ini meja makan terisi lengkap. Semua jenis makanan yang biasa dihidangkan saat lebaran ada. Benar-benar acara penyambutan yang spektakuler. Padahal hanya kakak yang datang bukan Pak Presiden. “Boy, gimana dapat juara?” tanya Mama begitu melihat Kak Boy baru turun dari mobil. Aku mengamati dengan penuh rasa iri. Mama selalu mengutamakan Kak Boy dimanapun itu. Aku benci Mama. “Cuma dapat juara dua, Ma. Pahadal menit-menit terakhir seharusnya aku bisa mencetak satu gol lagi. Tapi payah gara-gara pelanggaran dari tim lawan waktunya jadi habis. Yah, terpaksa dapat juara dua padahal cuma selisih satu poin,” jawab Kak Boy dengan penjelasan panjang lebarnya dan membuatku menguap. Aku pun berpikir untuk masuk ke dalam rumah karena aku tahu akan menjadi lebih panjang jika aku tetap berada di tengah-tengah mereka.  Apalagi Hera, adikku sedang asyik bermain kamera dengan Papa. Aku seperti kambing congek di padang rumput, sendirian. Mbekk.. Saat aku membalikkan badanku Mama memanggilku. Kupiki…