Langsung ke konten utama

Postingan

Asal Kau Bahagia

Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang. Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku. “Ara, kamu melamun lagi?” Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu. “Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.” “Kamu merindukan rumahmu?” “Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.” “Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.” “Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.” “Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini ber…
Postingan terbaru

Hingga Detik Ini

Kau di kepalaku menepilah. Aku ingin kebisinganmu berhenti sejenak. Riuh di kepalaku memanggilmu, mengenang wajahmu. Mataku mengerjap bayangmu ikut hadir. Ah, mimpilah aku memadu kasih kembali denganmu. 

"Bar, ini kopi siapa?"  Suara Tora terdengar dekat. Kutolehkan wajahku. Benar saja tak terdengar suara pintu terbuka tahu-tahu itu orang sudah di dalam. "Itu kopiku tapi kalau kau mau bolehlah buatmu. Nanti aku buat lagi," jawabku kembali melanjutkan pekerjaan mengecek bahan-bahan yang masih. "Tumben sepi," ujarnya sambil celingukan. Kulirik jam dinding di bawah pintu. "Ini masih jam delapan."  "Jam delapan dari mana ini sudah hampir jam sepuluh. Biasanya jam setengah sepuluh sudah buka. Melamun ya?" Kuperhatikan dengan saksama tak ada jarum yang bergerak detikannya berhenti. "Sial, jam dindingnya mati. Butuh baterai baru.”   “Bos kok nggak bisa beli baterai jam. Itu sih kecil,” ejeknya. “Kamu tadi masuk dari mana?" tanyaku mengalihk…

KU DENGANNYA, KAU DENGAN DIA

Pintu gate 3 sudah dibuka. Aku langsung beranjak dan antri berdiri di gate 3. Entah mata yang salah atau memang hanya mirip aku melihat sosokmu yang telah lolos dari pengecekan boarding pass. Ah, hanya perasaanku saja. Kutepis pikiran itu jauh dan bergegas naik ke burung besi mencari tempat duduk. “Permisi!” ujarku ketika melihat nomor tempat duduk bermaksud minta izin si empunya yang duduk di sebelah. Kupikir di sebelahku perempuan ternyata laki-laki. Ah, apalagi baju yang kulihat seperti sosokmu tadi. Ketika sosok itu membuka kacamata hitam dan topi bukan main dibuat kaget. “Lho, mau ke Bali juga?” tanyamu melempar senyum. Deg. “Ah, iya!” jawabku canggung. Dadaku berdesir nyeri. Air mataku muncul di sudut. Aku mengatur nafasku tak ingin ingatanku bergerak mundur. “Duduklah! Kau mau di samping jendela?” Kau menawariku. “Boleh?” tanyaku ragu-ragu. “It’s okay. Tak masalah. Kamu seperti sama siapa saja,” ujarmu seraya berdiri memberiku jalan. Aku duduk merenggangkan kakiku dan menge…

Kupikir Kamu

Kupikir kamu. Sekelibat menoleh ke belakang. Pada detik yang sama menatap. Lalu kupikir bukan. Kupalingkan wajahku menyusuri jalanan di luar jendela.

Kupikir itu kamu. Garis wajah yang sama. Kemeja putih lengan dilipat tujuh per delapan dengan aksen kacamata.

Kupikir itu kamu saat memiringkan wajah menatap jendela. Setengah bagian wajah tertutup bangku.

Kupikir bukan. Kau tak di sini. Tak diyakinkan. Senyuman yang bukan milikmu. Tatapan teduh khasmu tak nampak. Bukan kamu.

Melajulah, bergerak sampai pada pemberhentian. Turun. Dia kembali melaju. Wajah-wajah terlihat dari balik jendela. Bukan kamu.

Seharusnya pemberhentian ini jadi tempat menghapusmu yang tidak pasti.

3 Juni 2017

Posong Temanggung

Satu hari libur tanggal merah di bulan Mei sebelum mulai puasa. Diajak tante ke Temanggung. Temanggung bagiku bukan kota biasa. Sebuah kota penuh cerita masa kecil, tinggal tujuh tahun dan menyimpan kenangan adik kecil yang tiada di sana. Tapi aku ke sana bukan untuk singgah ke kotanya hanya numpang lewat. Karena Posong berada di pinggir dekat perbatasan Wonosobo.
Nah, ingatan wilayah tentang Temanggung di masa kecil hanya dari rumah sampai alun-alun. Mungkin karena ada kenangan zaman duduk di taman kanak-kanak pernah ikut karnaval di sana. Tapi zaman sekarang sudah canggih tentu saja mbah google menjadi senjata utama.

Baiklah kita mulai perjalanannya dari arah semarang melewati jalan lingkar Ambarawa menembus Jambu. Selanjutnya ambil jalan tembus melewati pringsurat. Eh, lama nggak lewat sekarang sudah ada gapuranya besar. Kemajuan. Dulu patokannya pertigaan pos polisi sebelum soropadan. Sekarang lewat sampai pangling. Kalau sudah sampai bangjo belok kanan tinggal lurus terus sampai…

Solo Lagi, Lagi dan Lagi

Solo bagiku bukan hanya sebuah kota numpang lahir tapi juga menyimpan segudang misteri dan rindu. Usai menempuh pendidikan di kota Solo tak berarti melupakannya begitu saja. Di sana masih banyak ingatan dan tempat-tempat yang belum dikunjungi. Sudah tidak bisa dihitung berapa kali singgah di kota ini tapi tetap saja banyak lokasi yang ternyata kalau disuruh menelusuri pasti bisa tersesat. Ya, jalan-jalan kecil di pinggir kota atau bahkan bisa jadi di tengah kota. Tapi tenang seberapa jauh tersesat di kota Solo kamu akan menemukan jalan kembali HAHA masih banyak orang baik yang akan menunjukkan jalan yang lurus. 
Kali ini perjalanan akan dimulai dari hari Sabtu. Niat awal weekend dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah. Kenyataan berangkat dari rumah pukul 14.00 dan sampai Solo sekitar jam 17.30. Biasanya ke Solo hanya sekitar 2 jam tapi hari itu luar biasa. Di sekitar Ampel ada sebuah truk pengangkut semen yang tidak kuat di tanjakan berguling akhirnya jalannya dibuat sistem…