Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Sedang Mencintaimu

Hei cantik. Kau datang sendiri? Aku ingin sekali berbicara denganmu.

"Bi, Bian telepon Katty gih! Udah mau bubar masih belum datang juga," seru Mely yang sedang sibuk menulis.
"Ini orangnya," kataku seraya menunjukmu.
Kau tersipu dan melewatiku. Kau meminta maaf pada semua orang.

Hei cantik. Bibirmu berseri. Lipstik apa yang kau pakai sekarang membuatmu tak lagi kelabu.

"Katty datang sendiri aja? Pacar kamu mana?" tanya Tasya seraya menyenggol badanmu. Kau hanya tersenyum.
Kau duduk pas di kursi berhadapan denganku.
"Katt, gimana kabarmu?" tanya Jonas.
Kau hanya tersenyum lagi.
"Kau bisa lihat sendiri, Jo. Katty baik-baik saja. Jangan diladeni Jonas, Katt. Dia cari perhatian. Cari sasaran baru," celetuk Mely.
"Kamu patah hati lagi, Jo?" tanya Tasya sambil menertawakannya. "Aku pikir klub kita sudah bubar. Aku sudah bahagia dengan pacar, Mely sudah punya suami. Katty sudah punya pacar. Tinggal Bian yang abu-abu."
&quo…
Postingan terbaru

Menunggu Pesannya

Cerita sebelumnya Kecemburuannya dan Rahasiaku



Aku tidak suka berurusan dengan Ergi. Tapi Ergi selalu ingin berurusan denganku. Istirahat kedua ia menemuiku.
"Aku mau traktir kamu," ujarnya saat menghampiriku di kantin sekolah.
"Dalam rangka?" tanyaku sedikit penasaran.
"Dua setengah tahun lebih sedikit kita kenalan."
"Kapan?"
"Waktu osmaru."
"Aku tidak ingat."
"Kamu tidak ingat tapi aku ingat."
"Tidak mau."
"Kalau tidak aku akan bertanya saja siapa lelaki kemarin? Kau belum menjawabku tentang siapa dia."
"Baiklah."
Aku mengiyakannya. Aku mendadak takut dia akan bercerita soal kemarin.
"Baiklah apa?"
"Kamu mau traktir kan?" tanyaku kemudian mengalihkan pembicaraan.
Ergi tersenyum dan memesan, "Bu pesan mie ayam satu dan bakso satu."
"Kenapa tidak mie ayam 2 atau bakso 2?"
"Karena aku tidak suka bakso," jawabnya.
"Lalu kenapa aku har…

Kecemburuannya dan Rahasiaku

Cerita sebelumnya Tentang Ucapan Terima Kasih


Jam istirahat pertama aku pergi ke kantin sendirian. Kesal jika teringat kejadian sore di rumah Irina dan sekarang ditambah wajahnya Ergi terlihat jelas di depanku. Aku menunduk mengabaikannya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kau sedang marah? Marah kok menjawab salamku? Iya ya menjawab salam kan wajib," candanya.
Kesal. Aku menutup telingaku.
"Kalau aku salamnya hai dijawab nggak. Hai, Din! Din! Din!"
Aku diam.
"Kamu kesal karena aku kemarin ya. Aku tidak akan membuat pembelaan. Aku akui aku salah tidak seharusnya aku berurusan dengan mereka," jelasnya.
Aku masih menutup telingaku. Tiba-tiba tanganku ditariknya.
"Kau boleh marah tapi setidaknya dengarkan aku sesaat. Aku tidak ingin mereka melukaimu biar aku saja asal kemarahanmu setelah ini bisa mereda."
"Mereka? Mana mungkin?" Akhirnya aku bersuara dengan nada tinggi.
"Irina saksinya. Mereka sekelompok …

Jangan Marah-Marah

Penumpang yang kami hormati sesaat lagi kereta Argo Anggrek akan tiba di stasiun tujuan akhir bagi anda yang akan mengakhiri  perjalanan di stasiun Gambir kami persilahkan anda untuk memeriksa kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal atau tertukar. Untuk keselamatan anda tetaplah berada di tempat duduk sampai kereta berhenti. Terima kasih atas kepercayaan anda dalam menggunakan layanan jasa kereta api sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.

Dengan penuh kekesalan aku turun dari kereta. Jam empat pagi. Sambil menunggu adzan subuh aku duduk di samping masjid sendirian. Telepon berdering panjang kuabaikan. Lima puluh panggilan masuk dari Radit. Demi apa aku ke Jakarta sendirian. Aku kesal Radit membatalkan acara liburan mendadak yang sudah kurancang jauh-jauh hari. Sudah kukatakan kepadanya hari ini bertepatan dengan acara piknik kantor di Bali tapi Radit tetap kukuh mempertahankannya. Akhirnya kedua rencana sama-sama gagal.
"Cha, kenapa nggak diangkat dari tadi…

Tentang Ucapan Terima Kasih

Cerita sebelumnya Merayakan Kekalahan



Aroma khas pagi yang kuhirup rupanya membuatku menguap. Sekolah masih sepi. Aku datang terlalu pagi. Sengaja untuk menghindari Ergi yang mulai tahu jam berangkatku. Aku masih mendapati penjaga sekolah membuka pintu kelas.Pintu kelasku belum dibuka. 
"Pagi. Din, Din, Din."Suara Ergi mengagetkanku yang sedang asyik menatap layar gadget. Ia sudah kembali menyapa. Aku masih ingat betapa serius wajahnya saat menerima kekalahan dan sore itu aku mengambil keputusan untuk tak menemaninya. 
"Kok?" tanyaku menggantung. Kehadirannya tak kuharapkan.
"Kok apa?"
"Nggak jadi." Aku batal bertanya.
"Ke kantin yuk!" ajaknya.
"Nggak. Udah sarapan di rumah."
"Kan nggak harus makan. Menemaniku misalnya." Ia mulai cengingisan.Aku ngeloyor pergi masuk ke kelas karena pintunya sudah dibuka.
"Nolak ya? Aku sudah tahu."Aku diam dan disibukkan mengeluarkan buku catatan ke meja.
"Belajar? Nanti ada ul…

Merayakan Kekalahan

Cerita Sebelumnya Sebuah Konspirasi



Baru saja turun dari angkot tiba-tiba Ergi muncul.
"Assalamu'alaikum," sapa Ergi membuntutiku.
"Waalaikumsalam," jawabku sambil mempercepat langkah menuju gerbang. Setidaknya aku bisa terselamatkan. Pak Ale sudah menunggu di depan gerbang bersiap menangkap mangsa.
"Katanya nggak mau diganggu. Kok dijawab. Itu respon lho bagiku."
Aku ingin menjawab tapi dia sudah duluan memotong. "Iya menjawab salam kan wajib ya. Berarti aku setiap hari boleh menyapamu."
Aku berhenti.
"Nah begitu dong. Jalannya jangan cepat-cepat. Ini masih pagi nggak akan terlambat."
Imajinasiku mulai liar. Ingin rasanya aku mendorongnya menjauh atau berteriak minta tolong orang untuk memeganginya. Paling tidak aku bisa tenang sampai di gerbang.
"Astaghfirullah." Tiba-tiba ia mengagetkanku.
"Kenapa istighfar?" tanyaku sambil celingukan.
"Ada perempuan lewat," katanya.
"Kenapa? Cantik?" Kesa…