Sabtu, 24 September 2016

Mencintaimu Sampai Nanti



Tembok-tembok putih. Kamar Anggrek. Aku berhenti dan membuka pintu kau terlihat kesakitan. Aku menghampirimu yang terbaring. Kau tersenyum melihat kedatanganku yang menggalihkan rasa sakitmu sesaat.
“Kau baru sampai?” tanyamu seraya menahan rasa sakit.
Aku meraih tanganmu. “Ya, aku baru saja pulang dan langsung ke sini.”
“Terima kasih telah menjagaku.”
Kantong plastik berisi makanan untukmu dan tas ransel ku letakkan di meja kecil.
“Tidak. Itu sudah kewajibanku. Aku telah berjanji pada orang tuamu dulu untuk selalu menjagamu.”
“Itu apa?” Kau melihat sesuatu yang menonjol di tas ranselku.
“Sesuatu untukmu,” jawabku.
Aku mengeluarkan benda yang kau perhatikan sedari tadi sebuah album yang telah kurangkai. Bahkan sebelum kuserahkan kau sudah tersenyum senang.
“Kau suka?”
Kau mengangguk dan membukanya selembar demi lembar. “Indah. Ini kado paling indah yang pernah aku terima. Lihat aku lebih cantik di foto ini.” Kau menunjuk satu foto di masa silam.
“Tidak bagiku kau selalu cantik.”
Kau menggenggam tanganku erat dan berlinang air mata. “Boleh aku bertanya?”
Aku mengangguk.
“Kenapa dulu kau tetap memilihku meskipun kau tahu aku akan terbaring dan bahkan bisa setiap saat meninggalkanmu?”
“Apa kau butuh alasan? Bagaimana kalau aku jatuh hati padamu tanpa memiliki alasan.”
Kau tersipu dan mengusap air matamu. “Aku ingin tahu, Glen. Aku ingin tahu seperti apa perasaanmu.”
“Tuhan yang menggerakkan hatiku saat bertemu denganmu. Bagaimana aku bisa menolaknya.”
Kau tersenyum dan berkata, “Kau itu sangat penurut. Kau bisa saja tak mendengarkan kata Tuhan dan memilih wanita lain. Mungkin saat ini kau ada di rumah bak raja yang sedang menunggu makan malam. Aroma masakan dari dapur sangat lezat, lebih lezat dari makanan yang kau beli di kantin rumah sakit ini. Ketika malam hari kau bisa tidur nyenyak.”
“Apa yang kau katakan? Selama bersamamu aku sudah bisa tidur nyenyak di sini setiap hari. Dengan melihatmu saja semua masakan di rumah kalah lezat. Asalkan bersamamu semua yang kulakukan luar biasa.”
“Aku akan sembuh, Glen agar aku tak memberatkanmu. Aku sudah menyusahkanmu setiap saat. Bahkan aku pun belum pernah memberikanmu kebahagian selama menjadi istrimu.”
“Tidak, tidak. Apa yang kau katakan? Kau sudah memberiku kebahagian. Aku bahagia memilikimu.”
Kau tersenyum. “Boleh aku merepotkanmu sekali lagi? Aku ingin sesuatu.”
“Ya tentu saja. Katakan saja.”
“Aku ingin sebuah bunga yang baru saja dipetik. Bunga yang masih segar. Aku ingin kau membawakannya untukku.”
“Baiklah akan kupetikkan nanti.”
“Tidak aku ingin kau memetiknya sekarang.”
“Tapi kau sedang kesakitan bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendiri.”
“Glen, bunga putih.”
“Baiklah. Aku akan memanggil perawat lebih dulu lalu memetik bunga untukmu. Kau tunggu di sini.”
Kau menggangguk seraya menahan kesakitan.
Aku keluar menemui petugas jaga menitipkanmu sebentar. Menelusuri koridor dan belum juga kulihat bunga warna putih. Aku keluar ke parkiran. Kulihat bunga putih kecil di pinggir trotoar. Kujumput beberapa bunga dan membuatku sempat berdebat dengan satpam. Pada akhirnya aku diperbolehkan dengan pengecualian karena ia mengenal istriku.
Sekembalinya dari parkiran kulihat pintu kamar istriku terbuka dan beberapa orang berkerumun di sana. Aku menerobos barisan dengan perasaan kalut.
“Anda walinya?” tanya seorang dokter yang memegang senter.
Aku diam tak ada satupun kata yang terucap.
“Maaf kami sudah berusaha sebaik mungkin. Istri anda sudah menghembuskan nafas terakhirnya pukul lima lebih dua puluh menit.”
Tanpa kata aku memeluk tubuhnya yang dingin. Tak kudapati bunyi nafasnya, detak jantungnya berhenti. Kugenggamkan bunga putih segar di tanganmu. Kau tersenyum bahkan di saat terakhirmu. Bahkan kau tak mengizinkanku melihat disaat terakhirmu. Air mataku jatuh seketika. Seorang perawat menepuk bahuku. Kuseka air mataku. Badan dengan susah payah kutegapkan.
“Bapak silahkan ikut saya untuk mengurus administrasinya.”

---------------------------------------------
Seandainya ku kan tahu betapa selalu indah saat kau ada di sampingku
Seandainya ku kan tahu betapa cepatnya engkau harus pergi dari hidupku
Aku takkan ragu, takkan ragu tuk menikah sejak awal cerita cinta
Namun kini engkau pergi tinggal aku berkasih dengan bayangmu
Ku tak cari pengganti agar kau di sana tahu aku suami terbaik
Seandainya engkau tahu takkan ada cinta lagi yang sanggup mengganti dirimu
Aku takkan ragu, takkan ragu tuk menikah sejak awal cerita
Namun kini engkau pergi tinggal aku berkasih dengan bayangmu
(Kahitna)


Jumat, 16 September 2016

DALAM DIAM




Kemampuanku hanya sesederhana menatap punggungmu,
melihat kau berjalan beberapa langkah di depanku,
mengikuti jejak kaki yang kau tinggalkan di belakang punggungmu,
atau saat berjalan melihat bayanganmu.
Sesederhana itu aku menyukaimu.