Minggu, 04 Desember 2016

MENGEJAR MATAHARI



Kau membantu menarik tanganku mendaki bebatuan terjal di kaki bukit. Ah, demi mengejar sunrise.
“Kau lelah?” tanyamu seraya mengarahkan lampu senter ke pijakan kakiku.
Aku menggeleng. “Aku masih kuat.” Aku menggenggam tanganmu erat dan mendorong tubuhku agar berat tubuhku berpindah ke depan kaki belakangku menjadi ringan.
“Aku sudah janji akan membawamu ke atas bukit ini jadi bersabarlah sebentar lagi kita sampai,” katamu melegakanku.
Aku yang menginginkannya maka aku pula yang harus menanggung konsekuensinya. Nafasku sudah terengah-engah tak beraturan.
“Aku sudah melihat puncaknya. Kau benar,” ujarku dengan nafas tersenggal-senggal. Banyak lampu di bawah pertanda sudah aku sudah mencapai puncak bukit. 
“Ini baru sebuah bukit bukan gunung. Kau seharusnya lebih latihan fisik,” ejekmu.
“Oke. Untuk hal ini aku kalah. Kau pemenangnya,” kataku seraya membayangkan tanganku memegang bendera putih dan berkibar mengikuti gerakan.
Kau mengamati jam tanganmu. “Sebentar lagi moment sunrise pertama kita.”
“Semoga matahari tak malu-malu untuk menyapa kita,” ujarku berharap.
“Ya, kau benar. Akan sangat menyebalkan jika matahari tak bersahabat disaat kita telah berada di sini.”
Kita pun menunggu sambil bercerita panjang lebar hingga tak sadar semburat orange seolah membelah langit.
“Lihat, sudah waktunya.” Kau menunjuk ke langit.
Dalam takjub kita mengabadikan momen terbaik. Celetuk kekaguman muncul saat gambar yang kita abadikan.
“Ga, sini ambil foto bersama! Katakan sunrise.”
“Sunrise.” Cekrek.
“Kita bisa melihat pemandangan seperti ini di manapun padahal matahari hanya satu. Luar biasa megah ciptaan Tuhan.  Kadang aku merasa sangat kecil.”
“Ya, kita hanya secuil dari bagian ciptaan Tuhan. Betapa bersyukurnya hari ini masih bisa melihat salah satu keagungan-Nya dan merayakan satu tahun aniversary kita.”
"Kamu tidak memakai cincin yang kuberi?" tanyamu tiba-tiba.
Aku menunduk merasa bersalah. "Maaf aku menghilangkannya lagi," ujarku seraya garuk-garuk kepala.
"Tak apa asalkan kau tidak menghilangkan perasaanmu padaku."
Aku tersenyum tak bisa berkata-kata.
"Kali ini aku memberikan hatiku. Jaga baik-baik." Kau memberiku sebuah kalung dengan gantungan  hati. "Bersinarlah seperti cahaya di bandul kalung itu agar aku bisa terus melihatmu saat sedang di kegelapan," lanjutmu.
"Jika cahayaku hilang apakah kau akan meninggalkanku?" tanyaku ala film drama.
"Tidak. Kalau cahayamu hilang aku akan membuatmu bersinar lagi," celetukmu membuatku tertawa.
Pura-pura serius aku berkata, "Terima kasih telah membuat hariku bercahaya.” 
Kau tertawa geli. “Aneh ya! Kita nggak terbiasa ala-ala drama.”  
Udara pagi membiusku. Bangunan gedung, sawah, lapangan mulai terlihat jelas. Pagi yang cerah untuk jiwa yang  sedang bersemi. Kau menepati janjimu mengejar matahari ke atas bukit bersama. Satu hal yang dilakukan bersama itu juga salah satu kebahagiaan. Jangan sia-siakan kata bahagia hanya dengan kata lelah. Pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Setelah perjuangan yang melelahkan, kebahagian kan datang. Percayalah.


Sabtu, 26 November 2016

JANGAN BANDINGKAN AKU DENGANNYA




“Makan di luar yuk!” Kau berpakaian rapi siap pergi.
Aku menatapmu aneh. “Ke mana?” tanyaku.
“Ke suatu tempat spesial,” jawabmu seraya mendorong tubuhku keluar rumah lagi.
“Aku baru sampai. Kau menyuruhku pergi lagi?” tanyaku.
“Bukan kau tapi kita,” jawabmu tersenyum.
“Kamu nggak masak?” tanyaku seraya melirik ke belakang.
Kau menggeleng.
“Jadi kamu sengaja berpakaian rapi?”
“Hmm,” jawabmu seraya mengangguk.
Ini hari ke delapan kau dan aku memulai kehidupan baru dengan cincin yang tersemat di jari – terikat. Aneh saja tiba-tiba kau mengajakku keluar. Mungkin tujuh hari di dalam rumah membuatmu sedikit bosan.
“Kita sampai. Kita masuk ke dalam!” ajakmu.
Aku hanya diam mengikutimu. Kau yang mencari tempat duduk sampai memesan makanan.
“Dulu aku sering ke sini. Tapi sudah setahun lalu aku berhenti ke sini. Padahal makanannya enak.”
“Jadi sekarang aku orang pertama yang kau ajak ke sini?”
“Begitulah. Ah, ya itu pesanan kita datang!”
“Sudah nggak sama mas yang dulu itu?” celetuk seorang waiter yang membuat wajahmu tersipu malu. Kau menatapku dan meraih jemariku menegaskan kau bersamaku.
Waiter itupun menggodamu setelah melihat cincin di jari manismu. “Ah, ya saya mengerti sekarang mbak sama mas yang ini. Silahkan menikmati! Kalau ada yang kurang bisa panggil saya. Gresila.”
“Kamu kenal sama waiter itu?”
“Ya, dia pekerja di sini. Setiap aku ke sini dulu dia yang sering mengantarkan pesanan. Makan yuk!”
Aku membalik piring dan mengambil sendok. Tiba-tiba kau menaruh bawang goreng ke piringku dan aku menatapmu heran.
“Maaf. Sudah kebiasaan soalnya kalau makan ini,” ujarmu seraya tersenyum. “Kalau kau tak suka akan aku ambil lagi.”
“Aku baru tahu kamu nggak suka bawang goreng,” ujarku seraya membantumu mencari bawang goreng di piringmu dan memindahkannya.
“Ah, ya! Aku belum memberitahumu ya. Aku pikir aku sudah melakukannya. Maaf.”
“Makanannya enak juga. Siapa yang memberitahumu tempat ini?”
“Siapa ya aku lupa. Kalau nggak salah dulu pertama kali Anggita.”
“Emm, jadi sama Anggita.”
Kau bercerita, “Ya, lalu jadi kebiasaan setiap pulang kerja pasti ke sini.”
“Jadi tempat ini jadi tempat favoritmu? Lalu kenapa kamu berhenti ke tempat ini selama setahun?”
“Semenjak hari itu. Kamu ingat kan aku pernah cerita waktu putus dari Ega. Tempatnya di sini.”
Glekk. Aku tak suka kau menyebut namanya.
“Aku tidak ingin karena semua itu lalu tidak menjamah tempat favoritku ini. Aku tidak akan seegois itu,” lanjutmu.
Lagi  kau mengulanginya lagi. Tempat favoritmu yang selalu berkaitan dengan dia. Tempat terindahmu yang selalu tersimpan kenangan dengannya.
“Tidak bisakah hanya aku saja?”
“Apa? Aku nggak dengar.”
“Tidak bisakah hanya aku saja?”
“Berisik sekali di luar. Kita makan dulu saja,” katamu saat melihat ada rombongan orang di luar berorasi. 
Ada yang bilang kesempatan hanya datang satu kali. Sepertinya kata-kata itu berlaku padaku dan aku telah kehilangan selera untuk bertanya padamu.
Tiba-tiba si waiter itu datang dengan teko bening berisi air putih.
“Lho kami tidak meminta air putih.” Aku menjadi bingung. “Apakah itu tradisi di sini setelah makan?”
“Tidak, Bar. Biasanya dulu Ega memesankan air putih setelah aku selesai makan. Nggak apa-apa,” jelasmu. “Taruh saja di sini!” serumu pada Gresila yang juga terlihat kebingungan.
Dadaku bergemuruh hebat tak beraturan. Aku menarik tubuh dan bersandar pada kursi meletakkan sendokku. Seburuk itukah aku yang tidak mengetahui kebiasaanmu.
“Oh, ya tadi kamu bicara apa?” tanyamu setelah Gresila pergi.
Aku diam. Kau mengamati gerak-gerikku.
“Apa kau marah? Kau marah karena tadi aku nggak mendengarkanmu? Aku minta maaf.”
“Aku bukan dia,” ucapku dengan nada kesal.
“Maksudnya dia siapa?” tanyamu bingung.
 “Selama ini aku siapa bagimu?”
“Kamu ya orang yang penting di hidupku.”
“Sepenting apa aku bagimu?” tanyaku meninggi.
“Tunggu kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Kau kesal padaku.”
Aku menghelakan nafasku.
“Kamu bisa jelaskan kenapa seperti ini?”
“Tak bisakah hanya aku saja tanpa menyebutnya.”
“Kau cemburu. Hei, aku sedang bersamamu.”
“Ragamu memang di sini bersamaku tapi jiwamu tak benar-benar ada di sini bersamaku.”
“Apa aku terlihat seperti itu di matamu?” tanyamu dengan nada tinggi. Kau seperti terburu-buru menghabiskan suapan terakhir dan meminta bill ke Gresila. Kau bahkan tidak menunggu uang kembalian dan meninggalkanku di dalam. Aku mengejar langkah cepatmu.
“Tunggu, Clara. Kenapa jadi kau yang marah?” tanyaku seraya menghentikan lajumu dengan menarik tanganmu.
“Ya benar aku marah. Kau tidak percaya padaku. Kau meragukanku.”
“Aku tidak meragukanmu,” ujarku seraya menahan tubuhmu pergi dengan memegang bahumu.
“Lalu itu tadi apa? Kamu meragukanku, Bar. Kamu bilang jiwaku tak di sini. Aku di sini Bara. Aku bertanya balik sekarang kamu anggap apa aku ini? Bisakah kau jelaskan?”
Aku diam.
“Aku ada di sini bersamamu tapi kamu meragukanku. Kamu tahu hari-hari yang telah aku jalani seharusnya kau bisa mempercayaiku.”
“Maaf. Aku minta maaf.”
Kau tiba-tiba menangis. Aish! Senjata itu.
“Aku minta maaf. Aku terlalu berlebihan.” Aku menyeka air matamu. “Kamu bisa  bertanya dengan baik-baik, Bar. Seharusnya kau tadi tidak meninggikan suaramu.”
“Iya aku minta maaf. Aku hanya tidak bisa mengendalikan amarahku. Jangan menangis lagi. Aku akan belajar mengenalmu berkali-kali, berulang-ulang sampai memahamimu seutuhnya.”
Pada akhirnya aku harus memendamnya walau terkadang namanya yang kau sebut mengusik pikiranku. Aku harus menenangkan diriku. Walau hari ini aku belum terbiasa dan merasa kau membandingkanku dengannya tapi suatu saat nanti saat aku sudah memahamimu aku akan terbiasa.


-----------------------------------------------------
Tlah lama kita jalani cerita cinta kita
Namun masa lalumu terus menghantui dalam setiap langkahmu
Tlah lama aku mencoba jadi yang terbaik untukmu
Namun bayangan dirinya tak dapat kau lupa di setiap cerita
Biarkanlah aku mencintaimu dengan seluruh rasa cintaku
Biarkanlah aku menyayangimu setulus hati
Jangan bandingkan aku dengannya
Nilai saja tulus cintaku
Tak ingin sisa cinta yang lain untuk diriku
Jangan bandingkan aku dengannya
Harus bagaimana kudapat berharap tuk memilikimu dengan seutuhnya
Harus bagaimana kuharus berbuat tuk mendapatkan hatimu

(Abdul and the Coffee Theory)