Sabtu, 17 November 2018

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan



Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih dulu di depanku. Perasaan tak enak tiba-tiba singgah bergemuruh di dadaku. Aku menahannya masuk gerbang. Ada seorang ibu telah menunggu di depan pintu rumah. Dia menarikku lagi dan menepuk punggung jariku seolah mengatakan tak apa ada aku. Akhirnya kakiku bergerak maju. Tatapanku fokus pada seorang ibu yang dari jauh saya sudah membuatku gemetar. 
"Selamat siang tante. Saya Erin." Aku mencoba memperkenalkan diri dan membunuh rasa takutku. 
"Oh, ini yang sering diceritakan Beni. Masuk-masuk!" Ibu itu mempersilakan masuk dan menepis kekhawatiranku. 
"Ini tadi dari rumah langsung ke sini atau mampir dulu?" tanya ibu itu. 
"Dari rumah, tante. Tadi dijemput Beni." 
Ibu itu hanya tersenyum simpul. Ah, aku mematahkan pikiran burukku dan mencoba berbaik sangka. 
"Kamu main ke sini disuruh Beni atau inisiatif sendiri?" tanya Ibu Beni basa-basi.
"Beni tante yang nyuruh. Katanya tante ingin ketemu saya." 
"Iya, tante ingin sekali ketemu kamu. Karena tante penasaran dengan yang diceritakan Beni tentang kamu." 
"Memangnya Beni cerita saya tentang apa tante?" 
"Banyak. Dari A sampai Z," ujar Ibu Beni sambil tersenyum. 
Beni hanya asyik main handphone tanpa tahu aku sedang membunuh rasa kikuk. 
"Ben, Nak Erin nggak dibuatkan minum?" 
"Iya, Bu," jawab Beni sambil meletakkan handphone-nya di meja. "Kamu mau minum apa?" tanyanya kepadaku.
"Air putih saja, Ben." 
"Yah, air putih mah banyak. Di kran depan ada itu buat siram-siram bunga," candanya membuatku tertawa. 
"Maksudku air putih yang sudah direbus sampai mendidih, Ben." Aku meluruskan jawabanku. 
Ibu Beni melihatku dengan tersenyum. Beni pun tak terlihat lagi. 
"Nak Erin ini masih kuliah juga seperti Beni? Semester berapa?" 
"Sama dengan Beni tante semester empat." 
"Oh, baru semester empat sudah berani pacaran sama Beni? Padahal Beni belum kerja, belum tentu mapan." 
"Nggak apa-apa tante. Kan mulai dari nol. Nanti kalau Beni sudah lulus saya akan support dia untuk mencari pekerjaan dan bisa bahagiakan tante." 
"Tante lebih bahagia kalau Beni nggak pacaran dulu. Beni biar belajar rajin, IPK-nya biar bagus, lulus, cari kerja, mapan. Tante juga inginnya punya mantu dokter atau perawat." 
Aku terhening. Aku masih berpikir positif. Mungkin jika aku menjadi orang tua akupun akan berpikir demikian.
"Kamu satu jurusan dengan Beni kan? Berarti bukan di bidang kesehatan?" 
"Iya tante," jawabku singkat. 
"Tante sudah pernah bilang ke Beni tapi kenapa dia malah memilih orang seperti kamu. Tante itu ingin Beni dapat orang yang kaya, bisa membahagiakan keluarga, bisa mengangkat derajat orang tua." 
Glek. Dadaku mengisyaratkan firasat yang sama sebelum memasuki rumah ini. Energi kegelapan bersarang. Aku tak mengangkat wajahku. Mataku menatap meja dengan sesekali menghelakan nafas. 
"Orang tua kamu kerja apa?" tanya Ibu Beni seraya melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala disaat aku hanya memakai kaos oblong berpakaian santai. Jika aku berkaca mungkin aku akan menghina diriku sendiri. Tapi apalah daya aku hanya anak kuliahan dengan biaya hidup dari orang tua belum bisa mencari uang sendiri dan aku tidak ambil pusing tentang penampilan.
Aku memberanikan diri mengangkat wajahku menatap Ibu Beni dan dengan sedikit kebohongan mengatakan, "Hanya seorang pegawai rendah, tante. Seorang buruh."
Tuhan maafkan aku dengan kebohongan yang aku buat. 
"Oh, hanya buruh saja." Pandangan sinis yang kudapat dari kebohonganku. "Bisa naik motor? Menyetir mobil?" lanjutnya bertanya.
Aku menggeleng.
"Padahal Ibu itu inginnya punya mantu yang bisa nyetir mobil atau minimal bisa naik motor. Biar Ibu tidak repot ke sana kemari sendiri. Tapi ternyata kamu tidak bisa. Kenapa bisa Beni memilihmu?" 
Deg. Tuhan saja tidak membeda-bedakan hamba-Nya. Bagaimana bisa ibu ini dengan seenaknya menjatuhkan harga diri manusia dengan serendah-rendahnya. Pikiranku belum jernih isi kepalaku penuh umpatan ketidakberdayaan.
Beni baru muncul dari persembunyiannya. 
"Kok lama, Ben? Aku tadi sudah bilang hanya ingin air putih," kataku untuk mengalihkan isi kepalaku yang ingin berteriak menegakkan keadilan. 
"Sudahlah. Jarang aku membuatkan minuman untukmu. Ini tidak ada di caffe-caffe. Spesial dari Beni," katamu lalu kau duduk kembali di kursimu.
Aku tersenyum. Gradasi perasaan yang kontras. Satu sisi aku ingin tertawa tapi di sisi lain seperti gejolak panas membara. 
Kuseruput minuman buatan Beni. Baguslah minuman itu mencairkan isi kepalaku yang sibuk merangkai kata untuk serangan balik. Tapi kubatalkan karena ia sudah mendingin. 
"Ibu nggak arisan? Katanya mau arisan." Tiba-tiba Beni mengalihkan pembicaraan. Baguslah itu sedikit membantuku keluar dari topik panas. 
"Ah, Ibu nggak enak badan. Biar nanti titip saja, Ben. Lagian kalau Ibu tinggal kalian nanti berduaan saja. Nggak enak dilihat tetangga nanti mereka mikir macam-macam. Padahal kamu harapan ibu satu-satunya." 
Glek. Aku tersedak. Telingaku menangkap isyarat Ibu Beni. Tuhan aku sudah dimaki secara halus, sekarang aku diusir secara halus. Aku tersenyum dan meletakkan gelas di meja. 
"Saya jadi merepotkan tante. Ya sudah Ben aku pulang saja." 
"Tante nggak ngusir lho. Kok kamu buru-buru?" Nada manis yang bersebrangan dengan kenyataan.
"Nggak apa-apa tante. Saya pulang saja ini juga sudah sore. Saya mau langsung pulang bantu pekerjaan orang tua saya." Aku sudah tidak peduli Ibu Beni akan berpikir benar orang tuaku hanya buruh cuci, buruh tani atau buruh apa saja aku tak peduli. Sudah penat dan ingin segera lari dari tempat berhawa panas. Aku memang menyukai Beni, tapi jujur aku tak menyukai sikap dari ibunya. 
"Beneran ini. Tante nggak apa-apa kalau kamu masih mau bercerita dengan Beni." Ibu Beni masih basa-basi menahan.
"Ben, aku pulang ya. Aku pulang sendiri. Kamu nggak usah mengantarku," ujarku sedikit berbisik padanya. 
"Ben, antar Nak Erin!" seru Ibu Beni. 
"Nggak usah tante saya sendiri saja. Masih mau mampir ke tempat saudara dekat sini." Aku mencoba tersenyum.
"Serius? Nggak biasanya lho kamu begini. Aku antar sampai rumah saudara kamu kalau begitu." 
"Aku bisa sendiri. Makasih banget, Ben. Aku bisa keluar dari rumahmu sendiri. Aku tahu jalannya." 
Kata-kataku membuat Beni menyeringai. Ia memburu pertanyaan hingga sampai ke gerbang, "Maksud kalimat kamu tadi apa? Aku masih belum mengerti. Coba jelaskan! Kamu ada masalah sama Ibu? Nggak mungkin kan? Aku lihat kalian baik-baik saja." 
"Ben. Aku pamit ya." Aku menyempatkan tersenyum sebelum membalikkan badan.
"Rin, aku antar," teriaknya. 
Tak kuhiraukan. Air mata mulai membanjiri pipi. Aku berjalan membelakanginya. Seperti kalah dalam medan pertempuran. Sebuah timbangan berat ringan untuk mengambil keputusan.
***
Sesak berkumpul di dada hingga empat tahun berganti. Tak ada lagi Beni di kepala. Akhirnya aku menarik diri dan memutuskan untuk meniti karir. Bukan untuk membalas dendam pada Ibunya tapi lebih menghargai diri sendiri. Bukankah kebahagiaan itu datang saat kita menciptakan suasananya? Ya kali ini suasana mencintai diri sendiri itu yang sedang kubangun. Jika aku terlahir bukan dari orang kaya setidaknya aku bersyukur karena memiliki orang tua yang membesarkanku, mengajari cara menghargai orang lain dan hidup dalam kesederhanaan. Aku hanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa roda hidup itu berputar.
Terima kasih telah mengajari pengalaman menjadi manusia rendah dan penuh hina karenanya aku belajar cara terbang dengan kepakkan sayap anak burung yang tertatih. Aku memang belum bisa terbang sepenuhnya, masih sering terjatuh dan merasa kesakitan. Tapi seseorang di masa lalu telah mengajarkanku sesuatu ketika kau tidak menghargai dirimu dan hanya terlihat apa adanya tanpa berhasil menciptakan perubahan atau nyaman di tempat itu, di mata orang kau akan dinilai rendah karena tidak bertransformasi.
Setiap orang pada dasarnya bisa berubah menjadi lebih baik ketika ada dorongan kuat yang menikamnya. Itulah yang terjadi dalam hidupku. Seseorang yang ditempa dengan masalah akan menjadikan dirinya kuat. Bersyukurlah pada apa yang terjadi dalam hidup dan teruslah melangkah maju.
Seorang Ibu paruh baya menatapku dari kejauhan. Aku berniat mengacuhkannya tapi hatiku tak sekeras itu. Setidaknya dulu aku pernah mengenalnya dan seharusnya aku tidak melupakannya.
Selamat Ibu, Beni menikah tapi bukan dengan orang kesehatan dan akhirnya tetap memilih orang seprofesi denganku. Rasanya ingin kukatakan itu lantang. Tapi ada jiwa yang menahan setiap umpatan hati. Aku hanya melangkah maju dengan high heels, menegakkan bahu dan mensejajarkan dagu dengan tatapan lurus. 
Sebelum bersalaman dengan pengantin aku bersalaman dengan orang tua mempelai. Tiba giliran aku bersalaman dengan Ibu Beni. 
"Hai, Ibu masih kenal saya?" tanyaku dengan senyum. Sudah kuputuskan semenjak hari itu aku tak akan sok akrab dengan memanggil tante lagi. 
Aku tahu Ibu Beni sedikit bingung seolah tidak mengenaliku. 
"Saya Erni teman Beni. Selamat ya Ibu akhirnya Beni menikah setelah dia lulus dan mendapatkan pekerjaan." 
Kuakhiri kalimat itu di situ. Aku tak ingin memanggil ingatan lalu.
Ibu Beni terlihat seperti tak mempercayai. Aku yang meninggalkan Beni empat tahun lalu telah bermetamorfosis menjadi lebih kuat dan pemberani. Aku bukan pecundang lagi. Aku tak akan gentar lagi saat didiskriminasikan, dianggap rendah. Ekspresi ketidakpercayaan itu yang membuatku bisa melangkah maju dan tertawa sekarang.
Kutinggal senyumanku di depan Ibu Beni.
"Ben, selamat ya!" ujarku kepada Beni dan tak lupa juga pada mempelai wanita, "Selamat ya mbak. Kamu hebat bisa bersanding dengan Beni."
Hebat yang kumaksud tentu saja karena bisa bertahan dengan sikap ibu Beni. Mungkin saja dia mendapat perlakuan berbeda ketika orang tuanya kaya. Itu membuatku tersenyum sendiri. Sebuah diskriminasi yang telah dirancang alam.
Aku undur diri secara teratur. Suara high heels menyentuh lantai terdengar berirama. Entah mengapa lebih menentramkan dibanding suara nyanyian lagu sendu yang sedang diputar. 
Uang, status sosial bukan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan itu ada dalam dirimu sendiri. Terimalah dirimu sendiri, maafkanlah dan berbahagialah dengan apa yang bisa kamu lakukan dengan dirimu itu.


------------
Dalam diam jiwaku telah terluka memilikimu
Karna ku takkan bisa tuk selamanya jadi cintamu
Sesungguhnya hanya dirimu, tapi mereka tak mengerti
Dan menentang cintaku denganmu

Ku tlah menyerah slamanya dan mengakhiri kisah kita
Meski air mata membunuhku
Ku memang pecundang sejati yang tak sanggup perjuangkan cinta
Maafkan semua cintaku, ku meninggalkanmu

Janganlah kau tanyakan tentang janjiku yang pernah terucap
Karna semua tlah nyata kini diriku mengingkari
(Dygta)

Sabtu, 20 Oktober 2018

Aku Bisa



Semenjak Kiara keluar kantor, semenjak dia pergi hari-hariku tak menarik lagi. Kopi yang kuminum pahitnya terasa. Tak ada lagi yang membawakan gula tambahan. Tak ada lagi yang mengingatkan jam berapa meeting dimulai. Layar komputer hitam semua hanya ada bayanganku di sana sedang memikirkan Kiara yang biasanya muncul dari belakang membawakanku sesuatu.
Jika kau tanya siapa Kiara pernah kuceritakan hari penembakan saat di Lembang. Dia wanita pertama yang mau denganku. Dia yang pertama mau menerimaku menjadi kekasih. Hubungan yang baru berjalan seumur jagung tampaknya kandas ketika Kiara memutuskan resign dan alasan resign itulah yang belum bisa kuterima. Dia minta putus. Dia ingin aku melepaskannya, merelakannya. Dia ingin aku bahagia dengan yang lain dan aku masih belum percaya secepat itu kami berakhir.
"Aga, meeting, Ga." Kudengar suara Kiara mengingatkan meeting. Aku menoleh ke belakang tiba-tiba berubah menjadi Bimo.
"Aga, meeting sudah dimulai lima belas menit yang lalu!" seru Bimo. "Melamun terus. Kerjaan kamu itu. Seharusnya kamu yang harus persentasi bukan Tian."
"Sorry, Bim aku kehilangan fokus. Titik fokusku sedang bergeser."
"Yang ada harusnya minta maaf ke Tian. Kamu terlalu berlebihan move on dong! Cewek seperti Kiara banyak."
"Iya banyak tapi yang mau sama aku hanya Kiara."
"Nah, itu pinter. Ayolah ke ruang meeting minimal keberadaan kamu terdeteksi."
"Malas gerak ini."
"Apa aku carikan tali biar aku tarik-tarik? Mau?"
"Kamu pikir aku kambing."
"Bukan. Sapi. Yuk, ah! Setidaknya dukung Tian memenangkan tender. Biar naik jabatan, biar cepet nikah dia."
"Aku juga mau nikah."
"Tapi kamu sama siapa? Kalau Tian sudah punya calon. Begitu naik jabatan nikah dia."
"Bagian ini yang aku tidak suka. Ini tidak adil. Kamu ke sana dulu, aku menyusul."
"Aga, kita ini Tim. Profesional sedikit dong! Jangan karena urusan cewek semuanya jadi terbengkalai dan persahabatan rusak."
Aku pun berdiri dan mengikuti Bimo. Bukan karena pekerjaan tapi karena urusan persahabatan lebih rumit.
Tian selesai presentasi giliran tim lawan.
"Presentasi tim lawan sepertinya lebih berisi. Kita sepertinya kurang matang. Aku batal naik jabatan ini dan mundur lagi nikahnya," bisik Tian.
"Aku optimis," kataku.
"Optimis gundulmu, Ga. Kamu tidak lihat bahan kamu itu masih berantakan. Aku kalang kabut mengerjakan sama Bimo tadi pagi. Gara-gara cewek, kamu bisa menghancurkan persahabatan kita," bisik Tian marah.
"Maaf, brother. Maaf ya. Kalian yang terhebat. Kalian TOP," kataku kemudian.
"Setelah meeting selesai kita ke rooftop. Ada hal yang mau aku bicarakan. Jangan lupa bawa kopi!" seru Bimo.
Dan begitu presentasi tim lawan selesai keputusan langsung ditetapkan merekalah pemenang tender.
"Aku bilang juga apa kita kalah," ujar Tian kecewa. "Seharusnya kalau kamu fokus, bahan kamu selesai dan kamu yang presentasi tadi pasti kita menang. Tahu sendiri kata-kata dan suara Aga lebih meyakinkan," lanjutnya.
"Sudah-sudah. Kopi mana kopi? Ada yang bawa cemilan?" Bimo mulai ritual mencari cemilan.
"Kamu tadi hanya bilang kopi. No cemilan," jawabku.
"Kopi saja juga tidak masalah. Kita cheers dulu. Supaya tidak ada ketegangan."
Denting tiga gelas kopi benar-benar manjur memecah kebekuan.
"Ingat terakhir kita minum kopi bertiga di atas rooftop? Itu waktu Bimo mau diputus sama Asri," kata Tian menertawakan Bimo.
"Iya terus Bimo ngambek mau terjun sampai si Asri naik ke rooftop dan membujuk Bimo pakai makanan. Luluh juga tak jadi lompat dia," lanjutku.
"Tapi akhirnya aku dan Asri selalu bersama dan kami nikah punya anak. Beda sama nasibnya Aga."
"Aga, kamu jangan mudah bawa perasaan dan susah move on. Laki-laki harus kuat menghadapi cobaan."
"Gila. Parah ini!" celetuk Tian tiba-tiba sambil menunjukkan foto di instagram Kiara.
"Ganteng juga calon lakinya. Pantas saja Kiara mau," puji Bimo.
"Ah, kalian berdua hanya membuatku semakin bertambah parah. Masih sakit ini. Jangan ditambah lagi."
"Mau sampai kapan? Kamu pikir bisa sembuh? Itu bukan penyakit. Itu hanya perasaan kamu saja. Kalau kamu berpikir tidak apa-apa ya tidak sakit."
"Dengarkan mister Bimo bicara. Solusinya itu memberi pencerahan. Kamu mungkin baru pertama kali jatuh cinta dan pertama kali sakit hati makanya berlebihan banget. Di dunia ini keinginan kita tidak selalu bisa terpenuhi. Ingat ini. Tuhan memberikan cobaan karena kamu mampu."
"Aku dan Tian bahkan orang di luar sana juga pernah mengalaminya. Kamu tidak sendirian. Banyak yang pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Pilih mana sakit hati atau harus hidup jadi gelandangan? Sakit hati atau jadi anak kecil yang minta-minta di pinggir jalan? Jawab coba."
Aku terdiam.
"Cobaan sakit hati kamu itu sementara. Nasib kamu lebih baik dari mereka. Kamu kalau terus-terusan seperti ini bisa kehilangan pekerjaan dan jadi seperti mereka. Mau?"
"Kamu harus fokus. Tentukan titik fokus yang baru. Membalap Tian dengan menikah duluan misalnya," gurau Bimo.
"Nah terus bawa-bawa namaku. Begitu juga bolehlah kalau kamu pikir itu bisa membuatmu bersemangat lagi. Atau kita mau open trip kemana lagi menghabiskan jatah cuti."
"Gila kamu aku tak ikutan kalau itu. Jatah cutiku sudah tinggal sedikit untuk lebaran bersama keluarga."
"Kan bisa cari yang long weekend tanpa memotong jatah cuti."
"Ya bolehlah itu. Tinggal izin sama anak istri. Bagaimana brother Aga?"
"Kalian yang terbaik. Kita open trip ke Singapura, Thailand, Jepang."
"Tunggu, tunggu anak istri mau dikasih makan apa. Yang dekat-dekat sajalah. Cinta Indonesia kita," Bimo berkelit.
"Bilang saja duitnya dipegang istri susah izinnya."
Aku tertawa. Sekelibat lupa tentang Kiara. Bimo dan Tian berusaha menarikku dari dasar sakit hati ke permukaan lagi.
"Nanti kalau jauh-jauh dikira mau lari dari tanggung jawab, dituntut cerai bisa bahaya. Mau menyelamatkan Aga, malah aku yang masuk jurang. Tidak tidak." Bimo mulai berkilah.
"Terima kasih kalian berdua yang terhebat, terbaik, terlucu," pujiku sambil merangkul pundak mereka.
"Kita bukan pelawak, kita tidak lucu," sanggah Bimo.
"Apalah itu kalian the best. Tanpa kalian entahlah sampai kapan otakku terisi Kiara Kiara Kiara. Padahal dia sudah bahagia dengan yang lain. Waktunya menjadi orang baru."
"Kamu bisa, Aga. Kamu pasti bisa. Semangat."
"Ya. Aku bisa. Aku pasti bisa tanpa Kiara."
"Kita cheers lagi," ujar Tian dan begitu menoleh ke Bimo ia telah meneguk habis kopinya. "Bim, habis?"
"Aku pikir tidak ada cheers lagi." Bimo melirik gelas kosongnya dan tersenyum garing.
"Kita harus merayakan Aga yang baru. Sudahlah pakai gelas kosongmu itu!" seru Tian sembari mengucurkan sedikit kopinya ke gelas Bimo yang kosong.
"Untuk langkah pertama menjadi Aga yang baru. Yeah! Kita foto dulu dan posting di Instagram biar Kiara juga bisa lega melihat Aga juga bahagia."


---------------------

Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasakan
Memandang perih
Menyimpan luka
Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa
Bisa bicara
Demi aku yang pernah ada di hatimu
Pergi saja dengan kekasihmu yang baru
Dan aku yang terluka oleh hatimu
Mencoba mengobati perihku sendiri
Aku yakin bisa
Aku bisa tanpamu
(Flanella)

Selasa, 11 September 2018

Bila Engkau




Embun yang menyegarkan pagi. Kabut yang mendinginkan Lembang jam lima pagi. Kalau kamu satu-satunya yang memenuhi pandanganku. Satu frame di depanku penuh tanpa siapapun.
“Aga yang lain mana?”
Aku tertegun mendengarkan suara lembutmu.
“Aga, sudah jam lima kita jam setengah enam harus sudah berangkat,” katamu menegaskan.
“Yang lain masih packing.”
Kau mengangguk-angguk memaklumi. “Tak terasa liburan kita sudah usai. Cepat, singkat dan kurang panjang,” katamu sembari menatap mataku.
Senyumku mengembang begitu juga di dalam dada. Kehangatan yang kunikmati di pagi hari bersamamu menjadi barang langka.
“Aga, kamu memang orangnya diam ya? Aku pikir hanya di kantor saja. Ternyata di luar kantor pun juga.”
“Kata siapa?” tanyaku seolah tak merasa seperti tuduhanmu.
“Aku lihat sendiri. Seperti ini contohnya. Aku ngomong panjang, kamu singkat. Aku merasa jadi bawel kalau ngomong sama orang yang diam.”
Aku tersenyum dan memasukkan jemari ke saku celana. Dingin benar-benar membuatku kehilangan kata-kata.
“Karena kamu cantik,” kataku dengan tersipu.
“Apa? Kamu ngomong apa sih?”
“Iya karena kamu cantik jadi aku susah ngomong kalau di depan kamu.”
Kau tersipu malu dan menuduhku sedang menggombal.
“Aku serius. Kamu memang cantik. Perempuan sempurna yang baik, suka menolong.”
“Dan rajin menabung? Itu seperti ejekan waktu aku masih kecil,” potongmu seraya tertawa.
Deretan gigi putihmu berjajar rapi terlihat. Kau pun sesekali penepuk bahuku.
“Apa jadinya kalau kamu tidak jadi ikut open trip kali ini?” tanyaku sembari memasang wajah serius yang tidak membuatmu terpengaruh.
“Ya pasti tetap seru. Kamu bisa bertemu orang baru, wajah baru, karakter baru, tempat baru,” jawabmu dengan riang.
“Tidak seseru yang kamu bayangkan.”
“Biasanya kalian juga liburan ramai-ramai tanpa aku. Baru kali ini kamu mengajakku berlibur.”
Aku mengeluarkan handphone dan memutar playlist lagu Flanella Bila Engkau.
Ketika kau mendengar intronya pembicaraan pun beralih, “Itu lagu zaman aku masih pakai seragam putih biru. Kok, kamu masih menyimpannya? Aku dulu sering muter pakai walkman kakakku. Aku mau lagu itu. Bisa kirim ke handphone aku? Aku malas download sendiri,” pintamu manja.
Aku pikir kata-kataku akan tersampaikan padamu lewat lagu yang kuputar. Nyatanya sama sekali tak terpikirkan olehmu.
“Kiara, kamu hanya ingin lagu ini?”
“Iya. Memangnya ada yang lain?” tanyamu lugu.
Tiba-tiba aku menyanyikan reff lagu dan membuatmu tertawa. Kamu masih belum paham apa yang ingin aku sampaikan.
“Aga, cukup suara kamu merdu tapi lebih bagus kalau diam. Fals banget,” katamu menertawakanku. “Aku bercanda jangan dimasukkan ke hati ya.”
“Kiara, kamu sudah masuk ke dalam hatiku. Lagu tadi itu ungkapan perasaanku.”
Kau tertawa. “Aga, pagi-pagi sudah menggombal. Sudah ah! Aku mau ambil ransel dulu ke kamar.”
Aku menahan tanganmu. “Kiara, aku tidak sedang bercanda. Kamu mau menerima cintaku?”
Tersenyum. Kamu hanya tersenyum.
“Bagaimana?” desakku.
“Aga, aku pikirkan dulu ya.”
Saat kudengar katamu senyumku mengembang bukan karena bahagia tetapi aku sudah tahu jawaban kiasan itu.
“Jadi kamu tidak memiliki perasaan sepertiku?”
“Aga, menjalin sebuah hubungan itu tidak semudah memesan menu makanan di warung. Aku pikirkan dulu. Kalau sudah dapat jawaban aku akan segera memberitahumu,” katamu seraya menenangkanku. “Aku hargai keberanian kamu mengutarakan perasaan. Aku hargai cara kamu membuatku nyaman selama ini. Aku hargai semua perjuangan kamu. Tapi aku butuh waktu untuk berpikir. Kamu terlalu mendadak. Aku tak ada persiapan untuk menjawab.”
“Iya aku minta maaf karena membuatmu terkejut. Aku pikir perempuan menyukai kejutan.”
“Aku suka tapi untuk suatu keputusan yang melibatkan hati butuh proses. Sekali lagi terima kasih. Aku mau ambil ransel dulu. Itu Bimo sama Tian sudah kemari.”
Kau pergi dengan memberi tepukan di bahuku. Dingin membalut kepergianmu. Kehangatan yang kucari, yang sudah kutemukan nyatanya tak sama.
“Lho, Kiara mau kemana?” tanya Tian.
“Dia mau ambil ransel,” jawabku.
“Oh!”
“Kita cari makan dulu atau nanti di sekitar stasiun saja? Sudah lapar sih.” tanya Bimo.
“Soal keinginan makan kamu juara satu, Bim,” celetuk Tian yang membuatku tertawa.
Kau tiba-tiba muncul dengan ranselmu. “Cari makan di sekitar stasiun saja,” jawabmu. “Aku hanya takut kita ketinggalan kereta. Bagaimana?”
Kami bertiga mengiyakan katamu. Tian dan Bimo berjalan di depan sedangkan kau menempel di sampingku membuat canggung. Kau terlihat sama sekali tak terbebani atas pernyataanku pagi ini.
“Aga, aku mau tanya memang bedanya aku ikut sama tidak ikut apa? Aku masih penasaran.”
“Kalau kamu ikut aku tidak kepikiran tentang kamu tapi kalau kamu tidak ikut aku hanya akan memikirkanmu sepanjang hari tentang kenapa kamu tidak mau ikut, kenapa kamu tak ada di sini.”
“Jadi tujuan kamu trip sama mereka dan mengajakku hanya mau nembak aku?” tanyamu seraya tertawa membuat Tian dan Bimo menoleh.
“Iya. Karena kalau di kantor kamu pasti akan bilang kamu sedang sibuk, kerjaan kamu sedang menumpuk banyak,” jelasku tak bergairah.
“Jadi kamu mengambil sela di sini. Kamu berhasil.”
“Berhasil apa?” Wajahku yang layu tiba-tiba bangkit bercahaya.
Kau hanya memberikan senyum tanpa jawaban dan berjalan cepat sejajar dengan Tian dan Bimo. Kau menoleh ke belakang dan menyuruhku cepat.
"Ayo, Aga! Mana semangatnya?" teriakmu. 


------------------------
Saat indah dalam hidupku saat aku bertemu denganmu
Kau anugrah yang tercipta begitu nyata
Kau tercantik dalam hatiku walaupun orang tak berkata begitu
Kuingin kau di sampingku selamanya
Bila engkau menerima cintaku aku akan setia kepadamu
Karena dirimu yang selama ini kucari
Bila engkau menerima cintaku aku akan selalu jujur untukmu
Karena dirimu yang selama ini di hati
Kata cinta yang kumiliki
Ingin memberi semuanya yang terbaik
Berharap ku tak berlebih di hatimu
(Flanella)

Sabtu, 11 Agustus 2018

Jangan Datang Lalu Kau Pergi


Hari ini aku janjian dengan Gita di Resto dekat rumah. Aku jalan kaki dan Gita sudah beberapa kali menghubungi katanya mau memesankan makanan lebih dulu.
Kulihat dia duduk di tengah-tengah ruangan. Aku menaruh handphone di meja dan duduk. Mojito di depanku sudah memanggil-manggil untuk diminum. Belum sampai kusedot tiba-tiba Gita menusukku dengan pertanyaan pembukanya.
"Apa kabar kamu sama Mas Udin?" Gita bertanya.
Aku diam beberapa saat. Gita menanti jawaban. "Aku nggak jadi sama Mas Udin," ujarku seraya memainkan sedotan.
"Kenapa? Mas Udin nikah sama orang lain?"
Aku menggeleng dan menghentikan bermain sedotan.
"Terus apa? Padahal dari cerita kamu kelihatannya baik dan dewasa."
"Mas Udin nggak seperti yang kamu pikir. Dia membuatku kecewa berat."
"Apa yang terjadi?" Gita mulai kepo.
***

Pukul 20.00 WIB di depan televisi tiba-tiba Bunda bertanya, "Kapan Udin mau ke sini?"
"Nggak tahu, Bun. Katanya mau pertengahan bulan."
"Ini sudah pertengahan bulan. Katanya mau serius. Ini ditunggu nggak datang-datang. Apa takut?" Bunda mulai berspekulasi.
"Nggaklah, Bun. Dulu kan sudah pernah ketemu Ayah dan ngobrol banyak."
"Kamu nggak tanya?"
"Adek sudah lama nggak chatingan sama Mas Udin. Terakhir bulan lalu waktu bunda suruh Mas Udin biar ketemu ayah."
"Kenapa nggak chatingan lagi?"
"Ya Mas Udinnya nggak nge-chat duluan sih. Masak cewek duluan, Bun."
"Nggak tanya ke Udin kenapa lama nggak ada kabar? Siapa tahu lagi sakit?"
"Nggak ah, Bun. Mas Udin yang menghilang tanpa kabar kenapa juga Adek yang harus mencari."
"Cobalah di chat dulu. Takutnya kenapa-kenapa."
"Iya-iya. Ini Adek chat."
Aku mengetik dengan sedikit tekanan dari bunda.

Aku : Apa kabar Mas?
Mas Udin : Alhamdulillah sehat. 

Begitulah tanpa pertanyaan balik. Aku pun kembali menge-chat.

Aku : Sedang apa Mas?
Mas Udin : Ini baru sibuk mengurusi kerjaan.
Aku : Maaf sebelumnya mengganggu malam-malam. Ini sudah sebulan mas nggak ada kabar. Aku ingin menanyakan kelanjutan kita. Ayah Bunda sudah bertanya kapan mas mau datang lagi ke rumah. Ayah mau bertanya sesuatu.
Mas Udin : Maaf, aku belum bisa menemui orang tuamu. Aku tidak percaya diri untuk bertemu orang tuamu. Kondisi finansialku sedang kacau. Aku sedang mengalami kerugian. Aku sedang berusaha memulihkan semua seperti dulu. Kalau kamu mau mencari yang lain silahkan. Mas tidak apa-apa. Itu hak kamu karena kita belum terikat.

Glekk. Rasanya aku ingin berteriak. Geram. Aku menarik nafas panjang.
"Gimana?" tanya Bunda.
"Belum dijawab," ujarku berbohong.
Aku pun pura-pura pergi ke kamar mandi setelah membaca chat dari Mas Udin. Sesak menyelimuti dadaku. Linangan air mataku tak terbendung. Aku menahan suara yang keluar dari mulutku. Rahasia besar yang tak sanggup kuungkapkan ke ayah bunda. Bagaimana jika ayah bunda kecewa? Aku benar-benar tak sanggup mengatakannya.
Jika ada mesin waktu aku tidak ingin dikenalkan dengan Mas Udin.
Perkenalan itu berawal dari....
"Dek, keluar sebentar. Ada temen bunda yang mau ketemu kamu," kata bunda yang kutanggapi biasa. Aku keluar dan menyalami. Pandanganku sedikit terganggu dengan lelaki yang duduk di dekat pintu.
"Kenalan dulu. Itu Udin ponakan tante," tunjuk teman bunda.
Akhirnya mau tak mau aku berkenalan.
"Ini Udin mau mengenal dek Alia lebih jauh," kata Tante Mirna.
What? Konspirasi macam apa ini?
"Iya jadi Udin ini sudah matang ingin segera menikah," lanjut Tante Mirna.
Batinku menjerit. Aku melotot ke bunda. Tanpa persiapaan apapun tiba-tiba seperti kejutan. Aku pun tak lama-lama menanggapi, lalu undur diri mengambil kunci motor dan pergi. Aku tidak ingin berkenalan. Ini namanya perjodohan. Aku tak mau.
Entah kemana roda membawaku pergi tahu-tahu sudah gelap. Pikiranku kalut. Tante Mirna dan lelaki itu sudah pulang.
"Dek, kamu kemana saja?"
"Cari angin, Bun," jawabku seraya menaruh kunci motor di gantungan kunci.
"Angin kok dicari. Masuk angin nanti. Tadi pas tante Mirna mau pamit kamu dicari."
"Biarlah, Bun."
"Udin tadi bilang mau sama adek. Adek mau nggak sama Udin?"
Glekk. Dadaku memberontak. Sesak.
***

"Kok aku jadi geregetan ya. Menyebalkan tahu nggak sih. Semacam diberi harapan palsu." Gita mengomel setelah membaca isi pesan Mas Udin yang sengaja belum aku hapus.
"Benar. Rasanya kita seperti dibawa terbang lalu seketika itu dijatuhkan."
"Seharusnya dari awal dia ngomong tentang kondisinya. Kenapa harus takut mengakui keadaan. Belum tentu juga ayah kamu tidak setuju kan?"
"Iya makanya nggak gentleman. Jatuhnya ngeselin, menyebalkan. Kenapa awalnya meyakinkan belakangnya tiba-tiba kejutan. Wow, aku terkejut!"
"Padahal dulu Mas Udin yang nunggu kepastian kamu. Sekarang waktu kamu sudah bilang iya tinggal nunggu Mas Udin datang ke rumah banyak aja alasannya."
"Kamu tahu perjuanganku kan buat suka sama seseorang? Aku jungkir balik menguras pikiran buruk. Kamu juga tahu aku nggak gampang percaya sama orang. Giliran aku mulai percaya dan menanam keyakinan hasilnya mengecewakan."
"Sabar ya." Gita menepuk bahuku.
***

Sudah seminggu semenjak Bunda bertanya tentang Mas Udin dan aku belum memberi jawaban. Hal yang paling kutakutkan melihat Bunda menangis.
"Dek, belum ada jawaban juga dari Udin?"
Aku diam. Otakku merangkai kata.
Bunda menjawab sendiri, "Kata Tante Mirna baru sibuk sama kerjaan."
Aku ingin mengiyakan jawaban Bunda tapi air mataku jatuh.
"Lho kok nangis?"
Aku menghapus air mataku. "Bun, Mas Udin mundur."
"Kenapa?"
"Aku disuruh cari yang lain."
"Kenapa? Udin sudah ada calon?"
Aku menggeleng. Terlihat air mata Bunda mengalir. Bunda pun memelukku erat, menepuk-nepuk bahuku. Air mataku ikut larut.
"Yang sabar ya, Dek. Mungkin belum jodoh kamu. Bunda yakin kalau nanti jodoh akan dipermudah oleh Allah."
"Iya, Bun."
Bunda melepas pelukannya.
"Bun, kenapa laki-laki menyerah ketika finansial mereka runtuh? Kenapa mereka kehilangan kepercayaan dirinya? Padahal awalnya mereka yakin akan finansialnya itu dan membuatku yakin kalau itu tidak masalah. Rezeki sudah ada yang mengatur. Dia sendiri yang mengatakannya."
"Mungkin ini jalan yang ditunjukkan Allah. Kamu harus ikhlas nanti Allah akan ganti dengan sesuatu yang lebih baik."
"Iya, Bun. Aku percaya. Tapi kenapa selalu begitu? Teman Alia juga ditinggal dengan cara seperti itu. Ketika sampai pada urusan finansial mereka mundur dengan cara yang sama."
"Mereka laki-laki, Dek. Mereka ingin memberi yang terbaik. Mereka yang akan bertanggung jawab menafkahi keluarganya."
"Tapi itu masih bisa dibicarakan dengan baik-baik, Bun tanpa harus menyerah tiba-tiba. Aku kan juga sudah bekerja. Kenapa Mas Udin nggak ketemu ayah dulu? Kenapa nggak mencari solusi secara bersama? Biar duduk persoalannya mendapat solusi bersama itu lebih meringankan."
"Dek. Allah yang menggerakkan hati, yang membolak-balikkan hati. Doakan saja yang terbaik untuk Mas Udin. Kalau kamu kecewa, marah, kesal jangan sampai berlarut-larut. Karena kamu tidak tahu kondisi Udin. Mungkin kalau kamu di posisinya kamu belum tentu bisa menjadi dia."
Deg. Kata-kata Bunda membuatku sadar. Bunda lebih tegar daripada aku.
***

Gita mengambil saus dan menuangkan di atas steaknya. "Bunda kamu hebat. Ia lebih tegar daripada kamu," katanya kemudian.
"Iya dan jujur aku malu. Bunda bisa menyikapi itu dengan slow. Tapi aku hingga sekarang belum bisa seperti Bunda. Seringkali kekesalan, kecewa muncul setiap teringat." Aku mengambil saus yang baru diletakkan Gita.
"Lalu ayah kamu bagaimana?" tanyanya.
"Ayah juga sama dengan Bunda. Menegarkanku. Ayah bilang ini masih menjadi tanggung jawabnya. Suatu saat nanti pasti akan ada yang berani menemui ayah dan memintaku dengan keberaniannya."
Ada pesan masuk. Aku segera menaruh saus di meja.
"Handphone kamu itu bunyi. Siapa tahu penting."
"Ah, cuma chat."
Kupikir chat biasa tapi saat kudapati nama Mas Udin di layar mataku membelalak. Dadaku seperti tertusuk. Melihat ekspresiku tangan Gita menggenggam erat.
"Ada apa?"
"Mas Udin."
Gita melihat layar.

Assalamu'alaikum Dek Alia. Bagaimana kabarnya? Kondisi finansial Mas sudah pulih sekarang. Apakah Dek Alia sudah memiliki pengganti Mas? Jika belum bolehkah Mas menemui Ayah Adek?

Glekk. Gita menatapku bingung. Seperti kebingungan di otakku. Akhirnya yang kukeluarkan bagian kesakitanku dan juga air mataku. Ada orang diciptakan untuk mendampingimu, menghiburmu. Ada orang yang diciptakan untuk mengujimu. Mas Udin adalah orang yang kedua.
"Alia. Kamu bebas memilih," kata Gita seraya mengenggam jemariku.
Jika kau bertanya mengapa aku belum menikah jawabannya adalah ada orang yang datang dan pergi, singgah ingin menetap tapi tak menetap, bersungguh-sungguh tapi mundur dan kini dia muncul lagi memberi harapan yang sudah luntur.

--------------


Sabtu, 28 Juli 2018

Satu Nama Telah Mengunci Hatiku dan Itu Dia



"Ra, jangan bosan kalau aku bertanya tentang ini. Kamu sudah punya perasaan pada seseorang?"
Aku menggeleng.
"Astaga, Ra. Kapan kamu akan memikirkannya? Aku dulu juga begitu tapi setelah ke arah sini aku jadi sadar kalau kita seharusnya sudah menikah dan punya anak."
"Entahlah, Din. Satu pun tak ada yang berlalu lalang di kepalaku. Jika kau tanya nama satu orang saja aku tidak bisa menjawabnya." Aku beralasan.
"Tunggu kalau tentang Adam? Kamu masih stalking? Kamu itu ke Adam dulu cuma nge-fans kan?"
"Entahlah."
"Aduh, jawaban kamu itu seperti nggak punya perjuangan. Kehidupan percintaan kamu itu kayak sepatu flat tahu nggak? Gemes lihatnya."
Aku diam.
"Ra, aku itu paling susah nebak kamu. Dari kita kenal yang aku tahu kamu itu paling rumit kalau dengar kata cowok. Dikenalin nggak mau, kenal sendiri jaga jarak, dideketin menjauh. Mana ada yang berani sama kamu. Aku sebagai sahabat kamu turut prihatin."
Aku diam tapi otakku berpikir. "Apa aku harus bikin program tiga puluh hari mencari cinta?"
"Terus kalau setelah tiga puluh hari nggak dapat cinta mau apa hayo? Mau langsung dijodohkan?"
"Ya itu alternatif."
"Gila. Gila kamu, Ra. Aku tahu kamu pasti tidak mau."
"Aku harus bagaimana? Aku nggak tahu. Apa aku harus keluar dari kerjaan dan menemukan lingkungan yang baru lalu jatuh cinta. Arrggghhh!"
"Ya nggak begitu juga. Memangnya di tempat kerja kamu nggak ada yang bikin nyantol?"
"Semua sudah bercincin, Din."
"Nah, kalau sudah bercincin kan bisa minta itu dikenalin sama teman-temannya yang belum bercincin. Oh, aku tahu kamu pasti nggak mau."
"Din, apa ada yang salah sama otak dan perasaanku? Aku sudah berapa tahun coba seperti ini? Tahu-tahu lingkungan kita sudah banyak berubah, teman kita sudah menikah dan punya anak. Kamu sudah memiliki pasangan dan persiapan ke jenjang selanjutnya sedangkan aku masih duduk manis menikmati hidupku yang flat."
"Cobalah buka dirimu! Kalau misalnya Adam tiba-tiba melamar kamu apa kamu akan langsung menerimanya?"
Aku tertawa. "Itu imajinasi khayalan tingkat dewa. Adam nggak kenal aku, Din."
"Tapi menurutku kamu pasti belum tentu juga menerimanya. Pertimbangan kamu itu di luar kepala. Penuh sampai hal yang seharusnya simpel jadi rumit."
"Kamu tahu sendiri aku orangnya sensitif dan nggak gampang percaya orang."
"Masih ada lagi kamu itu keras kepala dan cueknya minta ampun," tambahnya.
"Itulah aku. Kamu tahu kan seperti apa aku. Cueknya aku bahkan untuk urusan hati."
"Kamu bisa berubah, Ra. Kamu mau aku carikan? Tipe kamu yang seperti apa? Nanti biar Anton ikut bantu."
"Nggak tahulah."
"Agamanya pasti dan orangnya baik. Itu dulu saja. Lainnya bisa kamu lihat waktu kenalan. Untuk urusan jadi nggak jadi tidak usah dipikirkan. Yang penting kamu ada usaha buka hati."
"Din, aku nggak bisa." Aku mengacak-acak rambutku. "Aku jadi pengen nangis ini kalau kamu maksa terus."
"Ayolah, Ra! Kamu keseringan nongkrong sama teman-teman cewek, teman cowok kamu bisa dihitung pakai jari. Kalau saja teman cowok kita masih single sudah aku seret mereka untuk membujuk kamu buat buka hati sampai kamu mau."
"Apa aku kena philopobia ya? Kamu tahu waktu Didi menyatakan perasaan aku kabur kan? Atau waktu menangkap sinyal Ergi ada perasaan aku menjauh dari dia. Dan lagi waktu si Akbar ngomong suka mulut aku refleks bilang no."
"Ah, itu mungkin karena kamu belum ketemu sama yang klik."
"Nggak, Din. Ini beda rasanya. Ini itu seperti ada sesuatu yang selalu mengganjal di hati dan aku nggak tahu apa. Mungkin aku harus ke psikolog."
"Nggak usah berlebihan, Ra."
"Aku sepertinya nggak bisa jatuh cinta, Din. Apa aku nikah sama orang yang nggak aku kenal dan nggak ada rasa saja? Biar sekalian hancurnya."
"Gila kamu. Nggak, nggak. Mungkin belum waktunya saja. Nanti kalau sudah ada yang klik pasti kamu akan nikah juga. Tapi nggak harus mengorbankan diri seperti itu. Nggak kebayang kan kita habiskan waktu sama orang yang kita kenal terus nggak pakai rasa. Aduh, itu nikah apa cuma ganti status!"
"Din, tapi kan mereka yang awalnya pakai rasa juga bisa cerai."
"Aduh, amit amit cabang bayi! Ra, kita pakai analogi. Kalau kamu beli baju, kamu pilih baju yang kamu suka atau yang nggak kamu suka?"
"Terserah saja."
"Aduh, susah kalau ngasih pilihan ke kamu. Otomatis pilih baju yang kita suka dong. Karena lebih nyaman dan pasti dipakai berkali-kali. Coba kamu pilih baju yang dari awal memang nggak suka tapi tetap kamu beli. Dipakai paling sekali kan karena nggak pe-de atau nggak nyaman."
"Itu kan baju. Baju nggak punya perasaan."
"Yaelah! Ini anak diajak mikir susah banget sih."
"Din, kalau dipikir-pikir orang zaman dulu kan banyak itu yang dijodohkan mereka nggak saling kenal bahkan nggak saling suka. Tapi mereka nikah dan hidup bahagia. Mungkin saja dari proses bertahun-tahun itu mereka timbul rasa. Aku mungkin harus begitu dulu kali ya. Asli kalau begini terus sepertinya nggak akan ada perubahan."
"Jangan, Ra! Jangan! Peluang ketemu orang yang baik di zaman now itu tipis. Janganlah! Saranku kalau mau seperti itu ikut ta'aruf sajalah sekalian."
Aku tertawa.
"Kok malah tertawa?"
"Aku liar, Din. Kamu tahu sendiri aku pergi ke sana kemari keluyuran, kalau udah sama pekerjaan susah dihubungi. Kalau suruh nulis kelebihan dan kekurangan jelas banyak kekurangannya. Aku pun tak punya visi misi yang jelas. Aku nggak punya impian muluk-muluk. Aku suka yang mengalir. Lihat aku kalau udah nyaman ya begini nggak kemana-mana. Diam di tempat."
"Nggak ada salahnya kan bikin proposal. Siapa tahu ada yang mau merubah kamu menjadi lebih baik."
Aku tertawa. "Jadi selama ini aku kurang baik."
"Ya bukan begitu juga. Tadi katanya banyak kekurangan. Nggak semua orang di dunia ini perfect."
"Din, kalau nanti aku dapatnya luar jawa dan harus melepas kerjaanku rasanya masih berat."
"Astaga cuek-cuek ternyata kamu mikir sampai ke sana. Jangan dipikirkan dulu itu. Jalani saja nanti kan bisa dibicarakan dengan pasangan. Kalau kamu belum apa-apa sudah mikir itu entahlah sampai kapan kamu akan menjomblo."
"Din, aku mikir juga kalau nanti kita nikah terus ikut suami, orang tua kita bagaimana?"
"Ih, dibilangin susah! Gemes aku. Ra, kalau semua kamu pikir sendiri kamu nggak akan menemukan jalan keluarnya. Mending cari dulu teman hidupmu itu setelah dapat, baru diajak mikir."
"Ah, Din memang kayaknya aku pasrah!"
"Yaelah! Berjuanglah! Kurangi itu main-main kamu dan jangan mikir kerjaan terus."
"Mikir kerjaan itu karena tuntutan. Masalah main itu buat menyeimbangkan hidup. Nggak selamanya kan kita kerja tanpa menikmati hasil kerja keras sendiri. Dan satu lagi aku bukan main-main, Din. Tapi aku itu cari pengalaman, memperluas konsep wilayah, nambah wawasan. Toh, nanti kalau sudah nikah punya anak akan semakin susah atur waktunya. Mumpung masih sendiri happy happy."
"Haduh, pemikiran kamu ini yang membuat kamu sulit dapat laki. Kamu terlalu nyaman dengan kesendirian kamu itu. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri. Jadi kamu nggak pengen nikah punya anak?"
"Pengen, Din. Cuma..."
"Apa?"
"Mau nikah sama siapa?"
"Astaga. Aku sudah kasih alternatif ke kamu. Mau aku kenalin atau mau cari sendiri?"
"Bisa delivery order nggak?"
"Kamu pikir makanan? Sudahlah aku ngomong panjang lebar sepertinya percuma. Kamu masih belum mikir ke arah sana."
"Ya udah Din, antar aku ke psikolog!"
"Eh, ini anak! Ogah. Nggak mau. Pergi sendiri nanti siapa tahu psikolognya cowok terus kecantol. Kalau sama aku nanti jadinya nggak bisa kenalan."
Aku merengek menarik tangan Dinda.
"Cukup, Ra. Jangan berlebihan! Kamu itu cuma butuh pembiasaan. Aku setuju kalau kamu mau cari lingkungan yang baru tapi nggak usahlah sampai pindah kerja. Susah lho cari kerja zaman sekarang. Banyak orang di luar sana yang pengen kerjaan kamu."
Aku terdiam.
"Sudahlah. Ini sudah sore. Aku pamit ya. Nanti dicari orang rumah."
"Jadi nasibku?"
"Pertama buka diri. Kedua kalau ada yang mau kenalan atau dikenalin harus mau. Ketiga pelan-pelan nggak usah tergesa-gesa. Keempat nggak usah ke psikolog."
Di luar terlihat ada seorang laki-laki di depan pagar celingukan.
"Tuh dicari mas mas di luar. Ayo ah anterin keluar!" Dinda menarik tanganku.
"Cari siapa mas? Rara ini dia orangnya," cerocos Dinda sambil menunjuk mukaku.
"Rara Cantika?"
"Iya betul mas. Gimana?"
"Ini ada paketan."
"Hah, saya nggak pernah belanja online atau nyuruh orang buat kirim-kirim paketan. Ini juga kenapa sore-sore begini mas ngirimnya?"
"Sekalian jalan pulang mbak."
"Rejeki nomplok itu namanya, Ra. Udah sikat saja," bisik Dinda.
"Ya udah mas sini saya terima."
Aku menandatangani bukti terima. Pengantar paket segera pergi tapi sinyal-sinyal Dinda masih bertahan.
"Itu isinya apa ya?"
"Kepo! Katanya mau pulang. Sana sana!" seruku.
"Asli aku penasaran banget buka dulu dong! Nanti penasaranku bisa sampai rumah," pinta Dinda.
Aku pun membuka bungkusnya dan sebuah buku dengan tema pernikahan. Lalu aku tersenyum teringat Bunda yang gencar menceramahiku untuk segera menikah.
"Aku tahu siapa pengirim buku ini."
"Siapa?"
"Bunda."
Dinda tertawa terpingkal-pingkal. "Itu artinya kamu sudah disuruh nikah. Lihat saja judulnya. Disindir tapi nggak ada tanggapan. Bundamu itu sudah pengen nimang cucu. Kamu harusnya sadar. Memangnya alasan kamu selama ini ke Bunda apa kalau ditanya belum nikah?"
"Ya aku bilang bisa saja aku nikah tapi sama siapa, calonnya saja belum ada. Eh, aku malah dikasih daftar list anaknya ini onoh rumahnya sana. Anaknya temen pengajianlah, tetangganya temen kerja, dari temannya tetangga dan anak pinaknya."
"Pilihlah salah satu. Siapa tahu ada yang mirip seperti Adam."
Deg. Aku menoleh dan tertawa. "Kenapa harus seperti Adam?"
"Karena dia yang sanggup bikin kamu bertahan menjadi secret admirer selama sepuluh tahun dan itu amazing. Kamu nggak berpindah hati dan pikiran kamu. Karena hatimu sudah buat dia. Satu nama yang mengunci pintu hatimu. Adam. Itulah alasan kenapa kamu susah memulai hubungan dan banyak alasan."
Glekk.
Itulah alasan mengapa aku belum menikah.

-----------------------


Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...