Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Konspirasi

Cerita sebelumnya Salah Caramu


Kalian tahu Ergi yang sudah pernah kuceritakan. Ergi si bad boy yang mengusik ketenanganku setelah dia menyatakan perasaannya. Dia dan genk-nya mendadak rajin ke Masjid sekolah tapi dia masih merokok diam-diam di pojok sekolahan. Aku masih sering melihatnya kepergok guru dan dipanggil guru BP. 
"Ergi and the genk disidang lagi sama pak Ale. Rasain tuh. Bandel sih. Disuruh jangan merokok nekat," celoteh Sarah.
"Iya sih. Padahal masih minta uang saku sama orang tuanya. Kasihan kan orang tua dibohongi. Dia saja tak bertanggung jawab dengan uang pemberian orang tua bagaimana bisa jadi imam yang baik nantinya," komentarku. 
"Sebentar, sebentar. Kamu yakin dengan kata-katamu tadi. Aku hampir tak mempercayainya."
"Memangnya aku berkata apa?" tanyaku seraya memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. 
"Kamu bilang tidak memikirkan Ergi secuil pun. Tapi kata-katamu tadi kurasa kebalikannya."
"Tidak." Aku menarik re…
Postingan terbaru

Salah Caramu

Aku berdiri di parkiran. Berdua empat mata. Bel berbunyi tapi dia tidak juga bicara. Aku terus menatap jam tanganku. Dia terus menerus menghisap rokoknya seolah tak menganggap keberadaanku. Dia sudah memaksaku tapi sekarang dengan santainya dia tak bicara.
"Kalau kau tak segera bicara aku akan ke kelas. Hari ini aku..."
"Aku suka kamu," potongnya. 
"Iya terus?" 
"Mau nggak kamu..."
"Nggak. Soalnya kamu merokok," potongku tegas tanpa menunggu kalimatnya selesai.
"Memangnya kenapa kalau aku merokok?" tanyanya.
"Aku nggak suka."
"Kalau kamu nggak suka aku tak apa tapi jangan salahkan rokokku," teriaknya keras seraya menghempaskan rokoknya dan menginjaknya membuatku bergidik. 
Glekk. 
Aku terlalu berani berkata jujur. Sebenarnya aku takut tapi kuberanikan diri meskipun aku mengambil langkah mundur.
"Sudah selesai? Aku mau kembali ke kelas," kataku.
"Belum. Aku masih penasaran. Kenapa kau menyalahkan rokokku…

Aku Punya Hati, Engkau Punya Rasa Dan Dia Pun Juga

Perempuan antik ini duduk tepat di depanku. Rambut kucir kudanya, bibirnya dengan olesan nude, tanpa pensil alis dan tatapannya itu terlihat menantangku. Dadaku dibuatnya berdebar. Seperti saat-saat aku menyatakan perasaan padanya setahun yang lalu. Berbeda sebelumnya, ini hanya aku dan dia, empat mata. "Apa tawaranmu waktu itu masih berlaku?" tanyanya seraya menaruh handphone ke dalam tas. "Tawaran apa?" tanyaku pura-pura tak tahu. "Kau denganku." Telunjuknya menunjuk padaku dan menunjuk padanya. Ia melakukannya dengan sangat yakin. Tatapan matanya begitu tegas. Glekk. Perempuan itu sudah gila. Bukannya dia sendiri yang bilang tidak ingin melukai hati Salsa. Sekarang tiba-tiba dia membalikkan pertanyaanku setahun yang lalu. "Jawablah!" serunya. "Aku.... aku....," jawabku terbata seraya berpikir. Aku tidak boleh gegabah. Pikiran rumit kucoba tepis. Dia tidak menjawabku dulu sekarang keadaan sudah berbeda. "Kau mencintainya kan?" pot…

KUIKHLASKAN WALAU CINTAKU LEBAM MEMBIRU

Air mataku perlahan menetes. Kusaksikan dengan kedua bola mataku dia, penghulu, wali dan saksi saling berhadap-hadapan. Dengan satu tarikan nafas lancar diucapnya. Diiringi kalimat sah yang menggema ia menghela nafas lega.
"Alhamdulillah," katanya. Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya berada di posisiku. Ikhlaskan saja batinku dalam hati. Aku mengusap air mataku dan tersenyum. Ini salahku. Aku sempat ragu dan memilih diam. Andai saja waktu itu aku mengatakan sesuatu atau bahasa lain. Mungkin lewat isyarat anggukan kepala atau penolakan halus, aku pasti tak akan semenyesal ini. Mempelai wanita keluar dan menghampirinya. Si wanita menitikkan air mata haru. Ia menjabat dan mencium tangan mempelai pria. Sekelibat aku tak kuasa menyaksikan dan memutuskan untuk pergi. "Kau mau kemana?" Tasya bertanya. "Aku ke toilet sebentar," jawabku. "Aku ikut," ujarnya. Tasya membuntutiku di belakang. Bagaimana ini aku ingin melarikan diri. Ingin menangis sejadi-jadinya …